Kejar Ekonomi Tumbuh di Atas 5%, Ini Sektor yang Jadi 'Mesin' Pertumbuhan RI

Ilustrasi. Foto: Dok istimewa

Kejar Ekonomi Tumbuh di Atas 5%, Ini Sektor yang Jadi 'Mesin' Pertumbuhan RI

Eko Nordiansyah • 13 April 2026 11:55

Jakarta: Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi memaparkan sejumlah sektor yang perlu didorong agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat melampaui lima persen pada 2026 di tengah ketidakpastian geopolitik global.

“Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi di atas lima persen, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor. Pemerintah harus menggerakkan seluruh ‘mesin’ pertumbuhan melalui kombinasi sektor tradisional dan sektor modern yang bernilai tambah tinggi,” ujarnya dikutip dari Antara di Jakarta, Senin, 13 April 2026.

1. Sektor manufaktur

Rahma merinci pertama sektor industri pengolahan atau manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional karena berkontribusi sekitar 19-20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Oleh karena itu, sektor ini perlu didorong agar tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Fokus penguatan manufaktur adalah melalui hilirisasi sumber daya alam seperti nikel, tembaga, dan bauksit menjadi produk setengah jadi maupun produk akhir untuk ekspor. Selain itu, pembangunan rantai pasok industri baterai hingga perakitan kendaraan di dalam negeri juga dinilai krusial.

2. Sektor pertanian dan pangan

Sektor kedua, yakni pertanian dan ketahanan pangan yang mulai menunjukkan peran sebagai mesin pertumbuhan baru. Pada 2025, sektor ini tercatat tumbuh di atas lima persen, berbalik dari tren sebelumnya yang berada di bawah dua persen.

"Jangan lupa penyederhanaan distribusi pupuk dan alat mesin pertanian. Karena itu merupakan modal untuk peningkatan produktivitas. Implementasi program seperti lumbung pangan supaya harga-harga pangan tetap stabil untuk meningkatkan permintaan domestik terhadap hasil tani," kata dia.

(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

3. Konsumsi rumah tangga

Sektor ketiga, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54 persen terhadap PDB. Ia menyebut daya beli masyarakat harus dijaga melalui stabilitas harga pangan dan penciptaan lapangan kerja.

Menurut dia, percepatan realisasi belanja pemerintah sejak awal tahun juga menjadi faktor penting untuk menggerakkan ekonomi.

Proyek infrastruktur seperti pembangunan irigasi, waduk, embung, serta perbaikan jalan dan jembatan dinilai mampu meningkatkan perputaran uang sekaligus memperluas kesempatan kerja melalui program padat karya.

“Target pertumbuhan tinggi memerlukan aliran modal besar (FDI) ke kita. Ada multiplier effect penciptaan lapangan kerja baru yang formal,” tutur Rahma.

4. Sektor energi baru terbarukan

Keempat, Rahma menyoroti peran sektor energi hijau khususnya pengembangan energi terbarukan. Program biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai Juli 2026, menurutnya, berpotensi menghemat anggaran hingga Rp48 triliun jika dijalankan secara optimal dan tepat sasaran.

Selain itu, investasi di sektor teknologi dan ekonomi digital perlu terus didorong karena memiliki potensi pertumbuhan yang eksponensial dan dapat menjadi sumber pertumbuhan baru di masa depan.

Fundamental domestik masih mumpuni

Adapun usai Rapat Kerja Pemerintah di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 8 April 2025, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa optimisme pertumbuhan ekonomi didukung oleh kuatnya fundamental domestik, khususnya konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga kuartal I 2026 juga menunjukkan tren positif. Penerimaan pajak hingga Maret tercatat meningkat 14,3 persen menjadi sekitar Rp462,7 triliun, sementara sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.

Selain itu, ketahanan pangan nasional dinilai tetap terjaga. Produksi beras pada 2025 mencapai 34,7 juta ton, dengan stok beras Perum Bulog saat ini sekitar 4,6 juta ton.

Pemerintah juga terus menyiapkan kebijakan strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, salah satunya melalui implementasi Program Biodiesel B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026.

“Kebijakan B50 diperkirakan memberikan penghematan anggaran hingga Rp48 triliun,” kata Airlangga.

Di sisi lain, pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal, termasuk mempertahankan rasio utang di level 40 persen terhadap PDB, di bawah batas maksimal undang-undang sebesar 60 persen. Selain itu, defisit anggaran juga ditargetkan tetap terjaga di kisaran 3 persen hingga akhir tahun.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)