Emir Qatar Tekankan Pentingnya Diplomasi sebagai Kunci Stabilitas Timur Tengah

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. (Anadolu Agency)

Emir Qatar Tekankan Pentingnya Diplomasi sebagai Kunci Stabilitas Timur Tengah

Willy Haryono • 29 April 2026 20:06

Jeddah: Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menegaskan pentingnya jalur diplomasi dan koordinasi negara-negara Teluk untuk menjaga keamanan serta stabilitas Timur Tengah di tengah memanasnya konflik regional.

“Pertemuan ini mencerminkan sikap Teluk yang bersatu dan perlunya meningkatkan koordinasi demi menjaga keamanan dan stabilitas kawasan,” ujar Sheikh Tamim dalam pertemuan para pemimpin Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Jeddah, Arab Saudi pada Selasa.

Dikutip dari Al Jazeera, Rabu, 29 April 2026, pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan tatap muka pertama para pemimpin GCC sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah dua bulan lalu.

KTT yang digelar di Jeddah itu mempertemukan para pemimpin enam negara anggota GCC, yakni Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Uni Emirat Arab, untuk membahas perkembangan regional dan langkah bersama menghadapi dampak konflik.

Para pemimpin disambut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dengan agenda utama meliputi stabilitas kawasan, keamanan maritim, dan ancaman ekonomi akibat terganggunya jalur energi global.

Salah satu fokus utama adalah Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia yang sempat terganggu akibat perang.

Negara-negara Teluk menegaskan pentingnya pembukaan penuh jalur tersebut dan mendukung terciptanya kesepakatan damai permanen.

Proposal Iran

Pertemuan ini juga berlangsung ketika Amerika Serikat sedang mempertimbangkan proposal Iran terkait penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Qatar secara khusus memperingatkan risiko konflik berkepanjangan yang dapat berubah menjadi ketidakstabilan jangka panjang.

“Kami tidak ingin melihat konflik beku yang sewaktu-waktu kembali memanas karena alasan politik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari.

Di tengah dinamika tersebut, keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari OPEC dan OPEC+ turut menambah dimensi baru dalam lanskap geopolitik energi kawasan.

Meski gencatan senjata telah berlangsung sejak 8 April, para pemimpin GCC menilai ancaman konflik lanjutan masih tinggi selama belum tercapai penyelesaian diplomatik yang permanen. (Keysa Qanita)

Baca juga:  Negara Teluk Gelar KTT Darurat di Jeddah Bahas Krisis AS-Iran

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)