Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Turun Lagi, Brent Jadi USD104/Barel
Husen Miftahudin • 18 September 2026 08:13
Houston: Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat. Harga minyak Brent sebagai patokan global juga berada di zona negatif untuk kinerja mingguan seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dan munculnya sejumlah perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Meski turun, harga minyak masih bertahan di atas USD100 per barel. Pasar tetap mencermati potensi meluasnya konflik di Timur Tengah yang dapat memengaruhi pasokan dan jalur distribusi energi global.
Mengutip Investing.com, Jumat, 18 September 2026, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman November turun 1,7 persen menjadi USD104,04 per barel. Dengan pergerakan tersebut, Brent tercatat turun 0,3 persen sepanjang pekan ini.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka untuk pengiriman Oktober turun 1,3 persen menjadi USD101,05 per barel.
Pipa timur-barat Arab Saudi jadi perhatian
Harga minyak sempat melonjak pada awal pekan setelah penutupan East-West Pipeline di Arab Saudi pada Jumat sebelumnya meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan.
Jalur pipa tersebut digunakan Arab Saudi sebagai alternatif pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz. Pada saat yang sama, konflik dengan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman meningkatkan perhatian terhadap keamanan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting di kawasan.
Menteri Energi AS Chris Wright pada Selasa mengatakan East-West Pipeline akan kembali beroperasi dalam waktu dekat. Data TankerTrackers.com juga menunjukkan Arab Saudi memuat 8,7 juta barel minyak mentah dari terminal di pantai timurnya.
Pada Rabu, Bloomberg News melaporkan Arab Saudi berencana mengoperasikan kembali pipa tersebut dengan kapasitas sekitar setengah dari kemampuan normalnya dalam beberapa hari. Laporan tersebut mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Reuters juga melaporkan Arab Saudi menawarkan tambahan muatan minyak mentah kepada kilang-kilang di Asia melalui transfer antarkapal di lepas pantai Sohar, Oman. Langkah tersebut disebut dilakukan untuk mengimbangi dampak penutupan jalur pipa.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
AS-Iran masih buntu soal Selat Hormuz
Di sisi geopolitik, AS dan Iran masih menghadapi kebuntuan dalam pembahasan terkait Selat Hormuz. Namun, aktivitas militer antara kedua negara dilaporkan kembali mereda.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan, "semoga kita menuju akhir perang" ketika ditanya wartawan mengenai fase konflik yang sedang berlangsung. "Iran sangat ingin mencapai kesepakatan. Kita lihat saja bagaimana hasilnya," tambah Trump.
Sejumlah laporan media juga menyebut Departemen Luar Negeri AS telah memberikan visa kepada pejabat tinggi Iran, termasuk presiden dan menteri luar negeri, untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada pekan depan.
Axios melaporkan Trump diperkirakan bertemu para pemimpin negara-negara Teluk di sela-sela agenda tersebut untuk membahas perkembangan konflik.
Adapun, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas. Berdasarkan data Kpler, jumlah kapal komoditas yang melintasi selat tersebut turun menjadi tiga kapal pada Rabu dari 12 kapal sehari sebelumnya.
Sementara itu, jumlah kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb turun menjadi 21 kapal dari 24 kapal pada Selasa. Penurunan aktivitas pelayaran tersebut menjadi salah satu indikator yang terus dicermati pasar di tengah ketidakpastian mengenai keamanan jalur perdagangan energi di kawasan Timur Tengah.