Harga Minyak Dunia Tergelincir, Brent Turun Jadi USD105,41/Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Dunia Tergelincir, Brent Turun Jadi USD105,41/Barel

Husen Miftahudin • 17 September 2026 08:18

Houston: Harga minyak dunia menghentikan penguatan dalam sepekan pada perdagangan Rabu waktu setempat. Penurunan terjadi setelah muncul laporan mengenai rencana Arab Saudi mengaktifkan kembali jalur pipa utama dengan kapasitas sekitar 50 persen dalam beberapa hari.
 
Jalur pipa tersebut ditutup pekan lalu setelah mengalami gangguan akibat serangan pesawat nirawak yang dikaitkan dengan kelompok Houthi yang didukung Iran. Penutupan sempat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak.
 
Mengutip Investing.com, Kamis, 17 September 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November, yang menjadi patokan harga minyak global, turun 3,1 persen menjadi USD105,41 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 3,6 persen menjadi USD102,02 per barel.
 
Meski terkoreksi pada perdagangan Rabu, harga Brent masih mencatat kenaikan 6,1 persen sepanjang pekan. WTI juga menguat 8,1 persen dalam periode yang sama.
 
Gangguan pasokan minyak masih menjadi perhatian utama pasar seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik di kawasan tersebut melibatkan sejumlah jalur pelayaran dan produsen minyak utama. Perkembangan terbaru mencakup ketegangan di Selat Hormuz serta meningkatnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.
 
Serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi sebelumnya mendorong kerajaan tersebut menutup Pipa Timur-Barat. Jalur tersebut memiliki peran penting sebagai alternatif pengiriman minyak mentah tanpa melewati Selat Hormuz.
 
Pada Selasa, 15 September 2026, Reuters melaporkan Arab Saudi menangguhkan pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu dengan mengutip sumber dari sektor pelayaran. Kekhawatiran pasokan juga meningkat setelah laporan mengenai penghentian produksi di tiga ladang minyak Libya.
 



(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Pipa timur-barat Arab Saudi akan diaktifkan

 
Kondisi pasar berubah pada Rabu setelah Bloomberg News melaporkan Arab Saudi berupaya mengoperasikan kembali Pipa Timur-Barat dengan kapasitas sekitar 50 persen dalam beberapa hari.
 
Laporan Reuters secara terpisah menyebut Arab Saudi juga menawarkan tambahan muatan minyak mentah kepada kilang-kilang di Asia melalui mekanisme transfer antarkapal di lepas pantai Sohar, Oman. Kedua laporan tersebut membantu meredakan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan memberikan tekanan terhadap harga.
 
Meski demikian, pedagang masih mencermati perkembangan di kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi terus berupaya memperluas pengaruh di sejumlah wilayah Yaman barat serta Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting.
 
Sementara itu, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz masih memengaruhi lalu lintas kapal melalui jalur strategis tersebut.
 
Dari dalam negeri AS, persediaan minyak mentah komersial di luar Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) turun 700 ribu barel pada pekan yang berakhir 11 September 2026.
 
Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA), total persediaan minyak mentah komersial mencapai 423,4 juta barel. Penurunan tersebut lebih kecil dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 1,6 juta barel.
 
Jika termasuk SPR, total persediaan minyak AS turun sekitar 1 juta barel menjadi 708,4 juta barel pada pekan yang sama. Level tersebut tercatat sebagai yang terendah sejak Februari 1984.
 
Data EIA juga menunjukkan total ekspor minyak mentah dan produk bahan bakar AS mencapai 12,39 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 11 September. Angka tersebut menjadi level mingguan tertinggi sejak awal Juni 2026.
 
Perkembangan persediaan dan ekspor minyak AS menjadi perhatian pasar di tengah dinamika pasokan global serta ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

(Husen Miftahudin)