Gedung Asia Cultural Center, Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah
Menelusuri Asian Cultural Center Gwangju, dari Jejak Demokrasi Menuju Pusat Budaya Asia
Whisnu Mardiansyah • 11 September 2026 13:02
Gwangju: Di jantung Kota Gwangju, Korea Selatan, sebuah kompleks kebudayaan hadir dengan ragam fasilitas yang saling terintegrasi. Seni, sejarah, penelitian, pendidikan, teknologi, hingga pertukaran budaya Asia ditempatkan dalam satu ekosistem kawasan bernama Asia Culture Center (ACC).
ACC bukan sekadar gedung pertunjukan, galeri, atau ruang pameran. Kompleks ini dibangun sebagai pusat kreasi, penelitian, produksi, pertukaran, sekaligus penyebarluasan kebudayaan Asia.
Kehadiran tempat ini juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah Gwangju. Kota ini berperan penting dalam perjalanan sejarah demokratisasi Korea Selatan, terutama melalui Gerakan Demokratisasi pada 18 Mei 1980.
Jejak sejarah tersebut menjadi bagian dari rancangan pembangunan ACC. Pemerintah Korea Selatan mengembangkan Gwangju sebagai pusat budaya Asia, dengan ACC sebagai salah satu infrastruktur utama dalam visi tersebut.
Kompleks ACC ini mempertemukan dua identitas Kota Gwangju. Satu sisi, kota ini menjadi saksi sejarah perjuangan demokrasi masyarakat Korea Selatan lepas dari rezim militer. Di sisi lain, Gwangju berkembang sebagai ruang seni dan kebudayaan yang menghubungkan Korea Selatan dengan Asia dan dunia.

Area taman terbuka di Asia Cultural Center, Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah
Gagasan Menjadi Pusat Kebudayaan Asia
Pada Desember 2002, muncul komitmen Pemerintah Korea Selatan untuk mengembangkan Gwangju sebagai ibu kota budaya Korea. Gagasan itu lalu diimplementasikan lewat pembentukan komite pembangunan kota pusat budaya pada Maret 2004.
Dua tahun kemudian, Pemerintah Korea Selatan menetapkan Undang-Undang Khusus tentang Pembangunan Kota Pusat Budaya Asia. Rencana pembangunan Asian Cultural Hub City selanjutnya difinalisasi pada Oktober 2007.
Dalam rencana tersebut, Gwangju ditempatkan sebagai kota strategis dalam pengembangan kebudayaan. Pembangunan ACC menjadi salah satu bagian utama dari visi itu. Konstruksi ACC dimulai pada April 2008 dan berlangsung hingga 2014. Proyek pembangunan selesai pada Oktober 2014.
ACC resmi ditetapkan sebagai lembaga di bawah naungan Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan pada Juli 2015. ACC kemudian dibuka untuk publik pada 25 November 2015. Pada Januari 2022, ACC dan Asia Culture Institute diintegrasikan sehingga membentuk sistem National Asian Culture Center.
Makna Arsitektur Gedung ACC
Bangunan ini berdiri di kawasan bekas Kantor Provinsi Jeollanam-do, salah satu lokasi penting yang berkaitan dengan Gerakan Demokratisasi 18 Mei 1980.
Karena itu, desain pembangunan ACC tidak hanya persoalan fungsi dan kebutuhan ruang. Arsitektur ACC juga menyimbolkan dengan memori sejarah yang sudah melekat pada lokasi tersebut.
Konsep desain ACC dikenal sebagai Forest of Light. Gagasan tersebut menghubungkan taman, cahaya, ruang publik, bangunan bersejarah, serta fasilitas kebudayaan dalam satu lanskap.
Bangunan ACC tidak berupa bangunan monumental yang menjulang tinggi. Sebagian besar fasilitas utama justru ditempatkan di bawah permukaan tanah.
Tujuannya memberikan ruang agar bangunan asli sebagai saksi sejarah tetap terlihat di permukaan. Area di atas kompleks dikembangkan menjadi taman, plaza, dan ruang terbuka yang dapat digunakan masyarakat.
Kompleks utama ACC memiliki luas lahan sekitar 110.243 meter persegi dengan luas lantai sekitar 156.817 meter persegi. Bangunan terdiri atas empat lantai di atas tanah dan empat lantai bawah tanah, dengan titik tertinggi sekitar 20,3 meter.
Di kawasan ini, ruang hijau, plaza, hutan kecil, area bermain, padang rumput, dan halaman menjadi bagian dari pengalaman arsitektur. Rancangannya juga mengambil inspirasi dari taman tradisional Korea serta menggunakan sejumlah jenis pohon dan material lokal.
Cahaya alami menjadi elemen lain yang menonjol. Sejumlah bukaan cahaya pada area taman membawa sinar matahari menuju ruang bawah tanah.
Pada siang hari, cahaya tersebut membantu menerangi ruang interior. Ketika malam tiba, elemen pencahayaan itu menghadirkan tampilan berbeda dari permukaan taman. Dengan demikian, hubungan antara ruang atas dan bawah tidak hanya dibentuk oleh struktur bangunan, tetapi juga oleh cahaya.

Konsep Forest of Light dalam gedung Asia Cultural Center, Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah
Woo Kyu-sung dan Gagasan Forest of Light
Di balik bentuk ACC yang tidak lazim terdapat sosok arsitek Korea-Amerika, Woo Kyu-sung atau Kyu Sung Woo. Lahir di Seoul pada 1941, Woo menempuh pendidikan arsitektur di Seoul National University sebelum melanjutkan studi di Columbia University dan Harvard University, Amerika Serikat.
Ia memiliki rekam jejak panjang dalam dunia arsitektur. Sejumlah karya yang tercatat dalam portofolionya antara lain Seoul Olympic Village Apartment, Whanki Museum, dan Nerman Museum of Contemporary Art di Kansas, serta berbagai proyek lain di Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Woo juga menerima Ho-Am Prize bidang seni pada 2008 dan Harleston Parker Medal pada 2012. Dalam proyek ACC, Woo Kyu-sung bersama timnya mengajukan konsep Forest of Light melalui sayembara desain internasional. Konsep tersebut kemudian terpilih sebagai rancangan pembangunan pusat kebudayaan di Gwangju.
Alih-alih menjadikan ACC sebagai objek arsitektur yang mendominasi lanskap, rancangan tersebut menempatkan sebagian besar fasilitas di bawah tanah. Bangunan baru kemudian dirancang agar tidak menghilangkan keberadaan bangunan bersejarah.
Fasilitas baru ditempatkan di bawah tanah dengan mengikuti batas bangunan yang tetap dipertahankan. Dengan cara tersebut, bangunan lama tetap berada di permukaan tanah. Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana arsitektur ACC memperlakukan memori sebagai bagian dari rancangan bangunan.
Nama Forest of Light merangkum gagasan utama desain ACC. “Forest” diwujudkan melalui taman dan ruang hijau yang berada di atas kompleks fasilitas bawah tanah. Sementara “light” hadir melalui sejumlah struktur kaca yang memungkinkan cahaya alami masuk ke ruang-ruang di bawah permukaan.
Bukaan cahaya berbentuk kubus miring ditempatkan di sejumlah area taman. Selain memasukkan cahaya alami, struktur tersebut memiliki fungsi arsitektural lain, termasuk membantu cahaya pada malam hari dan menyamarkan sistem ventilasi bangunan.
Karena itu, cahaya dalam rancangan ACC bukan sekadar kebutuhan penerangan. Cahaya menjadi elemen yang menghubungkan taman, plaza, ruang bawah tanah, dan aktivitas kebudayaan.

Maket kawasan Asia Cultural Center, Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah
Lima Fasilitas di ACC
Saat ini ACC memiliki lima ruang utama, yakni ACC Culture Exchange, ACC Archive & Research, ACC Creation, ACC Theater, dan ACC Children. Kelima ruang tersebut memiliki fungsi berbeda, tetapi saling terhubung dalam satu ekosistem kebudayaan.
ACC Culture Exchange berfungsi sebagai ruang pertukaran budaya dan komunikasi. Bagian ini juga memiliki keterkaitan dengan sejarah kawasan karena salah satu ruangnya berada di area bekas Kantor Provinsi Jeollanam-do. ACC Culture Exchange mulai dibuka pada Mei 2026 dan kini telah beroperasi.
Sementara ACC Archive & Research menjadi ruang penelitian, pengarsipan, museum, serta pengembangan pengetahuan mengenai kebudayaan Asia. Salah satu fasilitas yang menarik adalah Library Park. Ruang ini menggabungkan fungsi perpustakaan, arsip, ruang pameran, dan ruang publik.
Di dalamnya terdapat Book Lounge yang menyediakan buku, majalah, serta surat kabar berkaitan dengan kebudayaan Asia.
Book Lounge juga menjadi lokasi berbagai kegiatan, seperti konser buku dan program kebudayaan lainnya. Fasilitas tersebut terbuka secara gratis bagi pengunjung. Pendekatan Library Park memperlihatkan cara ACC menempatkan arsip. Dokumen dan pengetahuan tidak hanya disimpan, tetapi juga dihadirkan sebagai bagian dari interaksi publik.

Library Park Asia Cultural Center, Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah
Laboratorium Seni dan Teknologi
Fungsi ruang kreasi menjadi salah satu kekuatan utama ACC melalui ACC Creation. Ruang tersebut berkaitan dengan proses kreasi dan produksi karya seni serta konten budaya. Penelitian, kreativitas, teknologi, dan produksi ditempatkan dalam satu proses.
ACC juga menyediakan fasilitas residensi bagi seniman. Program tersebut tersedia di Complex Studio yang terdiri atas delapan studio privat, ruang komunitas, dan ruang kerja bersama.
Fasilitas produksi mencakup Machine Molding Studio, Multi-purpose Studio, dan Digital AV Studio. Keberadaan fasilitas tersebut membuka kesempatan bagi seniman untuk mengembangkan karya melalui berbagai pendekatan dan teknologi.
Dengan demikian, ACC bukan hanya tempat untuk melihat karya yang telah selesai. Proses penelitian dan penciptaan juga berlangsung di dalam kompleks tersebut.
Untuk seni pertunjukan didukung dengan ACC Theater. Kompleks teater tersebut memiliki sejumlah ruang dengan karakter berbeda. Theater 1 merupakan ruang pertunjukan disebut Black Box yang dapat dikonfigurasi sesuai kebutuhan produksi.
Fasilitas lainnya mencakup Theater 2, Theater 3, dan Atelier. Setiap ruang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan seni pertunjukan maupun produksi. ACC menyebut Theater 1 sebagai salah satu ruang black box terbesar di Korea Selatan.
Fleksibilitas ruang memungkinkan produksi dengan beragam format, mulai dari teater, tari, musik hingga karya lintas disiplin. Fasilitas tersebut memperkuat posisi ACC sebagai tempat kreasi, produksi, sekaligus distribusi karya seni.
ACC juga menyediakan fasilitas khusus bagi anak melalui ACC Children. Ruang ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman budaya dengan pendekatan interaktif. Di dalamnya terdapat Culture Adventure, Play House, Play Culture, Play Library, dan Play Kids.
Keberadaan fasilitas tersebut memperluas sasaran ACC. Kompleks ini tidak hanya diperuntukkan bagi seniman, peneliti, dan penikmat seni, tetapi juga keluarga serta anak-anak.
Program dan tarif ACC Children dapat berbeda sesuai jenis fasilitas dan kegiatan. ACC juga menyediakan fasilitas bermain serta perpustakaan anak yang dapat diakses secara gratis sesuai ketentuan yang berlaku.

Ruang teater di Asia Cultural Center, Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah
Dari Ruang Budaya hingga Ekosistem Asia
Jika dilihat secara keseluruhan, ACC memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan pusat kebudayaan konvensional. Dalam satu kawasan, tersedia museum, arsip, perpustakaan, ruang penelitian, galeri, ruang pertunjukan, fasilitas anak, studio penciptaan, ruang publik, hingga fasilitas pendukung bagi seniman.
Rancang bangunan tersebut menciptakan rantai kebudayaan dalam satu ekosistem yang saling terintegrasi. Penelitian menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan dapat menjadi bahan penciptaan. Karya kemudian diproduksi, dipamerkan atau dipentaskan, lalu dipertemukan dengan publik.
ACC juga memiliki misi mempertemukan kebudayaan Asia melalui pertukaran, pendidikan, penelitian, penciptaan, dan penyebarluasan karya. Programnya mencakup pameran, pertunjukan, festival, pendidikan, serta berbagai kegiatan kebudayaan sepanjang tahun.
Direktur Asia Culture Center, Kim Sang-wook, menempatkan ACC sebagai institusi yang memiliki fungsi lebih luas daripada ruang pameran dan pertunjukan.
"Kekuatan ACC terletak pada penyebarluasan nilai-nilai universal demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian yang tercermin dalam Gerakan Demokratisasi 18 Mei ke seluruh Asia, serta perannya sebagai wadah dan pusat pertukaran dan perpaduan beragam budaya Asia yang berlandaskan nilai-nilai tersebut," kata Kim.
Bagi Kim, salah satu kekuatan ACC terletak pada kemampuannya menyediakan layanan seni secara menyeluruh. Prosesnya dimulai dari gagasan, dilanjutkan dengan kreasi dan produksi, hingga karya dapat dipamerkan atau dipertunjukkan kepada masyarakat.
Dengan model seperti itu, ACC tidak hanya menjadi tempat bagi karya yang telah selesai. Kompleks tersebut juga menjadi bagian dari proses kelahiran karya.
Dalam perkembangannya, ACC juga berupaya memperkuat hubungan dengan masyarakat lokal. Kim mengakui ACC pernah menghadapi persepsi sebagai sebuah “island within the city”, atau pulau yang terpisah dari kehidupan kota.
Untuk mengurangi jarak tersebut, ACC memperluas kerja sama dengan masyarakat serta menghadirkan program yang berhubungan langsung dengan komunitas lokal. Salah satunya adalah ACC Crossing Lines, yang membawa aktivitas ACC lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Upaya tersebut menjadi penting karena sejak awal ACC dirancang sebagai ruang publik. Taman, plaza, dan ruang terbuka memungkinkan masyarakat datang tanpa harus selalu mengikuti agenda pameran atau pertunjukan. Bagi Kim, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan ACC.

Direktur Asia Cultural Center Kim Sang-wook, Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah
Gwangju Menuju Asia
Visi ACC selanjutnya menghubungkan ekosistem budaya lokal dengan jaringan kebudayaan Asia. Kim menyampaikan rencana membangun model kerja sama yang memungkinkan ekosistem budaya Korea dan budaya Asia.
Setelah satu dekade beroperasi, ACC memasuki fase baru dengan target memperkuat posisinya sebagai institusi kebudayaan di tingkat Asia dan internasional.
Pada 2025, bertepatan dengan satu dekade pembukaan ACC, pusat kebudayaan tersebut mencatat 3,59 juta pengunjung dalam satu tahun. Secara kumulatif, jumlah pengunjung mencapai 22,47 juta sejak ACC dibuka pada 2015.
Bagi Gwangju, posisi tersebut menjadi penting. Kota ini memiliki sejarah demokratisasi yang kuat. Pada saat yang sama, ACC hadir sebagai sarana kebudayaan yang menghubungkan sejarah Gwangju dengan seni kontemporer, penelitian, teknologi, pendidikan, dan pertukaran budaya.