Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: Xinhua
The Fed: Harga Energi Melonjak Imbas Perang di Iran Picu Inflasi
Diva Rabiah • 20 March 2026 09:02
Washington: Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan masih terlalu dini untuk menilai dampak ekonomi dari perang Iran-Israel. Meski demikian, kenaikan harga energi akan berdampak pada inflasi.
Powell menegaskan, gejolak di Timur Tengah menimbulkan ketidakpastian bagi ekonomi Amerika Serikat (AS). Dalam jangka pendek, lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi.
Namun, ia menilai belum ada kejelasan terkait besaran dan durasi dampaknya. The Fed akan terus memantau risiko terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja.
Ia menambahkan, dampak ekonomi secara luas masih belum dapat dipastikan, meski kenaikan harga energi diperkirakan akan meningkatkan tekanan inflasi dalam waktu dekat.
Menurut Powell, ekonomi AS saat ini masih relatif solid. Namun, arah dampak konflik ke depan belum bisa diprediksi. Ia menekankan, ketidakpastian ini juga dirasakan oleh negara lain.
“Dampak perkembangan di Timur Tengah terhadap ekonomi AS masih penuh ketidakpastian. Dalam jangka pendek, kenaikan harga energi akan mendorong inflasi secara keseluruhan. Namun, masih terlalu dini untuk memastikan seberapa besar dan berapa lama efeknya terhadap ekonomi. Kami akan terus memantau risiko terhadap kestabilan inflasi dan pasar tenaga kerja,” ujar Powell dikutip dari Fox Business, Rabu, 18 Maret 2026.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Harga minyak tembus USD100 per barel
Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Kondisi ini mengguncang pasar global dan memicu kekhawatiran atas pasokan energi.Kenaikan harga energi mulai dirasakan konsumen. Harga bensin dan solar ikut naik seiring lonjakan minyak mentah. Solar mencatat kenaikan lebih cepat karena berkaitan erat dengan distribusi barang dan aktivitas industri.
Dari sisi kebijakan, bank sentral AS itu memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen. Keputusan ini melanjutkan kebijakan sebelumnya pada Januari, setelah tiga kali pemangkasan suku bunga berturut-turut sejak September hingga Desember.
Sejumlah indikator menjadi pertimbangan The Fed, termasuk perlambatan pasar tenaga kerja, inflasi yang masih berada di atas target 2 persen, serta ketegangan geopolitik di Iran.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan dengan suara 11 banding 1 untuk menahan suku bunga. Gubernur The Fed Stephen Miran menjadi satu-satunya yang menginginkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Situasi ini juga menjadi tantangan bagi Presiden Donald Trump. Konflik Iran berpotensi mendorong kenaikan harga energi, berlawanan dengan janji kampanyenya untuk menekan biaya hidup masyarakat AS.