Rupiah Ditutup ke Rp17.002 per USD Kamis Sore

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Ditutup ke Rp17.002 per USD Kamis Sore

Eko Nordiansyah • 2 April 2026 16:10

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelamahan. Rupiah melemah meski dolar AS juga masih mengalami tekanan akibat ketidakpastian global.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 2 April 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.002 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 19 poin atau setara 0,11 persen dari posisi Rp16.983 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, data Yahoo Finance justru menunjukkan rupiah berada di zona hijau pada posisi Rp16.990 per USD. Rupiah memguat tipis tujuh poin atau setara 0,04 persen dari Rp16.997 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.015 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.002 per USD.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Konflik Timur Tengah segera berakhir?

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait penarikan diri Washington dari konflik Timur Tengah dalam waktu dua hingga tiga minggu ke depan, seraya menambahkan Iran tidak perlu membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Sebuah laporan Wall Street Journal menyatakan Trump telah mengatakan kepada para ajudannya dimana ia bersedia mengakhiri kampanye militer AS terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup.

Di pihak Iran, media pemerintah melaporkan Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran siap untuk mengakhiri perang, sambil mengulangi tuntutan utama, memperkuat harapan negosiasi dapat muncul tetapi tetap bersyarat.

"Terlepas dari sinyal diplomatik ini, reaksi pasar cenderung tenang, dengan para pedagang menyeimbangkan harapan akan gencatan senjata dengan kenyataan gangguan pasokan yang berkelanjutan," ungkap Ibrahim.

Neraca dagang RI surplus USD1,27 miliar

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD1,27 miliar per Februari 2026. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang pada Januari yang senilai USD0,95 miliar.

Surplus pada Februari 2026 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar USD2,19 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Indonesia mencatatkan ekspor Februari 2026 mencapai USD22,17 miliar atau naik 1,01 persen dibandingkan Februari 2025 (yoy). Adapun, nilai impor Februari 2026 mencapai USD20,89 miliar atau naik 10,85 persen dibandingkan Februari 2025 (yoy).

Selain itu, data Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia merosot ke level 50,1 pada Maret 2026, dari bulan sebelumnya yang berada di angka 53,8. Namun, angka ini masih berada di zona ekspansi. S&P Global melaporkan indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan bahwa tidak ada perubahan berarti pada kondisi operasional. 

Data survei Maret menunjukkan tingkat penurunan output atau produksi tergolong sedang. Namun, tajam dalam sembilan bulan atau sejak Juni 2025. Panelis melaporkan penurunan tersebut umumnya mencerminkan kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material, yang sebagian dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah serta gejolak perekonomian global.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)