Rupiah. Foto: dok MI.
Rupiah Turun 0,22% ke Rp17.025 Pagi Ini
Husen Miftahudin • 2 April 2026 10:15
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 2 April 2026, rupiah hingga pukul 10.06 WIB berada di level Rp17.025 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 42 poin atau setara 0,25 persen dari Rp16.983 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.997 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.
"Untuk hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.980 per USD hingga Rp17.020 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Digilas 6 Mata Uang Utama Dunia, Dolar AS Ambruk Lagi |
Konflik Timur Tengah segera berakhir?
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait penarikan diri Washington dari konflik Timur Tengah dalam waktu dua hingga tiga minggu ke depan, seraya menambahkan Iran tidak perlu membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Sebuah laporan Wall Street Journal menyatakan Trump telah mengatakan kepada para ajudannya dimana ia bersedia mengakhiri kampanye militer AS terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup.
Di pihak Iran, media pemerintah melaporkan Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran siap untuk mengakhiri perang, sambil mengulangi tuntutan utama, memperkuat harapan negosiasi dapat muncul tetapi tetap bersyarat.
"Terlepas dari sinyal diplomatik ini, reaksi pasar cenderung tenang, dengan para pedagang menyeimbangkan harapan akan gencatan senjata dengan kenyataan gangguan pasokan yang berkelanjutan," ungkap Ibrahim.
Selat Hormuz, arteri penting untuk sekitar seperlima pasokan minyak global telah mengalami penurunan drastis lalu lintas kapal tanker di tengah konflik, yang secara tajam membatasi ekspor dan mempertahankan tekanan kenaikan harga.
Data dari AS mengungkapkan pasar tenaga kerja melemah, seperti yang ditunjukkan oleh Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS). Lowongan kerja pada pada Februari menurun menjadi 6,882 juta, turun dari 7,24 juta dan meleset dari perkiraan 6,92 juta pekerjaan yang belum terisi. Indeks Kepercayaan Konsumen naik menjadi 91,8 pada Maret, naik dari angka 91,0 yang direvisi turun pada Februari.
"Saat ini ekspektasi Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada 2026 sirna, karena para pelaku pasar mempertimbangkan harga energi yang tinggi. Sebelumnya di awal tahun, pasar uang memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Fed," terang Ibrahim.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Neraca dagang RI surplus USD1,27 miliar
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD1,27 miliar per Februari 2026. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang pada Januari yang senilai USD0,95 miliar.
Surplus pada Februari 2026 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar USD2,19 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Indonesia mencatatkan ekspor Februari 2026 mencapai USD22,17 miliar atau naik 1,01 persen dibandingkan Februari 2025 (yoy). Adapun, nilai impor Februari 2026 mencapai USD20,89 miliar atau naik 10,85 persen dibandingkan Februari 2025 (yoy).
Selain itu, data Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia merosot ke level 50,1 pada Maret 2026, dari bulan sebelumnya yang berada di angka 53,8. Namun, angka ini masih berada di zona ekspansi. S&P Global melaporkan indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan bahwa tidak ada perubahan berarti pada kondisi operasional.
Data survei Maret menunjukkan tingkat penurunan output atau produksi tergolong sedang. Namun, tajam dalam sembilan bulan atau sejak Juni 2025. Panelis melaporkan penurunan tersebut umumnya mencerminkan kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material, yang sebagian dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah serta gejolak perekonomian global.