Pengelolaan Sampah Organik Digencarkan di Lingkungan Sekolah

Pemilahan sampah organik. Foto: Istimewa

Pengelolaan Sampah Organik Digencarkan di Lingkungan Sekolah

M Sholahadhin Azhar • 10 June 2026 18:26

Jakarta: Program Eco Enzyme terus dikembangkan untuk mendorong pengelolaan sampah organik berkelanjutan di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung melalui pemanfaatan kembali limbah organik menjadi produk yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

"Melalui program Eco Enzyme, kami ingin mendorong masyarakat, termasuk komunitas sekolah, untuk melihat bahwa sampah organik memiliki nilai guna ketika dikelola dengan tepat," kata Ketua Yayasan Allianz Peduli, Ni Made Daryanti, dalam keterangan tertulis, Rabu, 10 Juni 2026.

Hal itu diungkap Ni Made, terkait pelaksanaan Eco Enzyme di SDN Rawamangun 02 pada 13 Mei 2026 dan SDN Pondok Kopi 02 pada 19 Mei 2026. Program yang telah berjalan sejak 2022 tersebut berfokus pada pembentukan kebiasaan serta peningkatan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah organik

"Kami berharap inisiatif ini tidak hanya memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga membuka peluang nilai tambah yang bermanfaat bagi komunitas," ujar Ni Made.
 


Pada 2026, program memasuki tahap pengembangan dengan memperkenalkan pemanfaatan hasil olahan Eco Enzyme menjadi produk yang memiliki nilai guna.


Pemilahan sampah organik. Foto: Istimewa

Sebelum memasuki tahap pengembangan produk, kelompok kerja yang terdiri atas guru, murid, dan orang tua murid mengumpulkan sisa kulit buah serta potongan sayur. Sisa makanan tersebut bakal difermentasi selama tiga bulan.

Hasil fermentasi berupa cairan Eco Enzyme kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Seperti, pembersih lantai, pencuci piring, penghilang bau, pengusir serangga, hingga pupuk tanaman.

Selain memanfaatkan cairan hasil fermentasi, program ini juga mengenalkan penggunaan ampas Eco Enzyme yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah sisa proses. Dalam kegiatan tersebut, ampas fermentasi diolah menjadi bantal terapi dan pengharum ruangan.

Bantal terapi dibuat dari ampas hasil fermentasi kulit buah dan sayuran yang dimanfaatkan sebagai alternatif kompres alami, sementara pengharum ruangan dibuat dari ampas yang telah dikeringkan dan dikemas dalam kantong kain berpori.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa sampah organik dapat dikelola kembali menjadi produk yang memiliki manfaat praktis apabila diolah dengan tepat.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur di lingkungan sekolah, mulai dari guru, komite sekolah, orang tua, hingga siswa. Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang dapat diterapkan secara berkelanjutan, baik di sekolah maupun di rumah.

Program ini juga sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendorong gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber. Melalui pendekatan yang menggabungkan edukasi dan praktik langsung, program Eco Enzyme diharapkan dapat membantu menumbuhkan kebiasaan pengelolaan sampah organik yang lebih bertanggung jawab serta mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

(M Sholahadhin Azhar)