Dolar AS. Foto: dok MI.
Dolar AS Menguat di Tengah Gejolak Obligasi Pemerintah
Husen Miftahudin • 30 September 2026 08:36
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di level tertinggi dalam dua bulan pada perdagangan Selasa waktu setempat. Penguatan tersebut berlangsung meski harga minyak turun dan tekanan jual di pasar obligasi pemerintah AS mulai mereda.
Pelaku pasar valuta asing masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve. Spekulasi mengenai kenaikan suku bunga lebih lanjut sedikit mereda setelah pernyataan dari salah satu pejabat bank sentral AS.
Mengutip Investing.com, Rabu, 30 September 2026, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,2 persen menjadi 101,37. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 28 Juli 2026.
Adapun, imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak volatil pada perdagangan Selasa. Obligasi tenor panjang sempat mencatat kenaikan imbal hasil ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak April 2002. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juni 2002.
Tekanan jual di pasar obligasi kemudian mereda setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan The Fed tidak perlu terburu-buru menentukan langkah kebijakan berikutnya.
Dolar Australia melemah
Di pasar valuta asing, dolar Australia melemah meski Reserve Bank of Australia (RBA) memberikan sinyal masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga.
Dolar Australia turun 0,4 persen menjadi USD0,6986, menembus level psikologis USD0,7000 dan mencapai posisi terendah sejak 29 Juli 2026.
Sebelumnya, RBA menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin. Kenaikan tersebut menjadi yang keempat pada tahun ini dan diputuskan secara bulat.
Gubernur RBA Michele Bullock mengatakan inflasi inti yang masih tinggi, kenaikan biaya energi, dan lemahnya pertumbuhan produktivitas menjadi sejumlah risiko terhadap stabilitas harga.
"Dewan akan menaikkan suku bunga lagi jika itu yang diperlukan untuk menurunkan inflasi," kata Michele Bullock dalam konferensi pers setelah keputusan tersebut, Selasa, 29 September 2026.
Meski demikian, pasar uang telah memperhitungkan kenaikan suku bunga tersebut. Pelaku pasar valuta asing kemudian mencermati menyempitnya keunggulan imbal hasil aset Australia dibandingkan dengan meningkatnya biaya pinjaman di AS.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Poundsterling tertekan
Di Eropa, poundsterling turun 0,2 persen menjadi USD1,3231, mendekati level terendah sejak 26 Juni 2026. Pergerakan poundsterling berlangsung setelah Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyampaikan pidato dalam konferensi Partai Buruh pada Selasa.
Dalam pidatonya, Burnham menyampaikan rencana perubahan kebijakan jangka panjang, termasuk reformasi sistem pensiun dan peningkatan peran publik dalam sejumlah layanan.
"Saya akan mengatakannya secara terus terang. Inggris telah berada di jalan yang salah untuk waktu yang lama. Deindustrialisasi. Deregulasi. Privatisasi. Penghematan. Brexit," kata Burnham dalam pidatonya.
"Saya siap melakukan hal-hal yang tidak dilakukan para pendahulu saya. Saya akan memutus arah kebijakan selama 40 tahun terakhir dan membawa Inggris ke jalan yang baru," tambah dia.
Burnham juga menyampaikan rencana penyesuaian triple lock pensiun. Pemerintah Inggris menyatakan skema tersebut akan dipertahankan hingga April 2030 sebelum disesuaikan untuk membantu pendanaan National Care Service.