Sekelompok siswa belajar di Vale Nickel Corner, tepatnya di Perpustakaan Daerah Malili Kabupaten Luwu Timur. (Dokumentasi/ Istimewa)
Dari Nikel untuk Masa Depan Generasi Luwu Timur
Metro TV • 29 September 2026 17:55
Luwu Timur: Industri nikel tidak hanya menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Perkembangan industri tersebut diiringi dengan upaya memperkuat literasi pertambangan, pendidikan vokasi, serta kesiapan sumber daya manusia lokal menghadapi perkembangan hilirisasi dan transisi energi.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi PT Vale Indonesia Tbk bersama Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Salah satu bentuk kolaborasi itu diwujudkan melalui kehadiran Vale Nickel Corner di Perpustakaan Daerah Malili.
Vale Nickel Corner menjadi ruang edukasi yang memperkenalkan industri nikel dan praktik pertambangan berkelanjutan kepada masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda. Fasilitas ini juga diharapkan menjadi sarana untuk mengenalkan berbagai aktivitas industri pertambangan secara lebih luas.
Baca Juga :
Fasilitas tersebut dibangun di atas area seluas 70 meter persegi. Di dalamnya tersedia beragam materi edukasi, mulai dari koleksi audio visual, contoh batuan mineral, produk olahan nikel, hingga informasi mengenai praktik pertambangan berkelanjutan.
Selain itu, pengunjung juga dapat memperoleh informasi mengenai prinsip ESG atau Environmental, Social, and Governance yang menjadi bagian dari praktik industri berkelanjutan.
Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Luwu Timur, Noviya Syahriani Syam, mengapresiasi kontribusi PT Vale Indonesia dalam menghadirkan fasilitas tersebut di Perpustakaan Daerah Malili.
Menurut Noviya, Vale Nickel Corner dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan literasi pertambangan kepada anak-anak sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga sekolah menengah atas.
"Pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu Timur sangat berterima kasih dan mengapresiasi pihak PT Vale Indonesia atas kontribusi dalam menyiapkan Vale Corner di kantor kami sebagai wadah untuk memperkenalkan literasi tambang di Luwu Timur kepada anak-anak sekolah mulai dari tingkat dasar sampai SMA yang berkunjung ke kantor kami,” kata Noviya di Luwu Timur, Selasa, 29 September 2026.
Tidak hanya pelajar, fasilitas tersebut juga terbuka bagi masyarakat umum. Noviya mengatakan layanan perpustakaan yang dibuka setiap Sabtu dapat menjadi kesempatan masyarakat memperoleh informasi pertambangan, khususnya aktivitas PT Vale Indonesia di Luwu Timur.
"Selain dari siswa sekolah yang hadir berkunjung di perpustakaan ini, setiap Sabtu kami buka layanan. Ada masyarakat umum juga yang hadir dan bisa mendapatkan informasi tentang pertambangan, khususnya di Vale untuk di Luwu Timur. Mereka bisa mendapatkan informasi di Vale Corner ini," jelas Noviya.
Kehadiran Vale Nickel Corner juga memberikan pengalaman baru bagi pelajar yang berkunjung. Siswi SMPN 2 Malili, Marzahra Nasrul Syahputri, mengaku mendapatkan pengetahuan mengenai aktivitas PT Vale yang tidak hanya berkaitan dengan proses pertambangan.
Menurut Marzahra, materi yang tersedia di Vale Nickel Corner memperlihatkan adanya aktivitas konservasi lingkungan yang berkaitan dengan kawasan pertambangan.
"Senang dengan hadirnya Vale Nickel Corner yang memberikan pengetahuan baru tentang Vale bahwa Vale bukan hanya sekadar pertambangan, tetapi juga melakukan konservasi keanekaragaman hayati, reklamasi lahan bekas tambang, restorasi dan konservasi kawasan pesisir," kata Marzahra.
Dia berharap keberadaan fasilitas tersebut dapat memberikan kesempatan pelajar lebih jauh mengenal konservasi yang dilakukan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
"Harapan kami, semoga kita bisa melihat secara langsung bagaimana proses konservasi keanekaragaman hayati, reklamasi lahan bekas tambang, restorasi dan konservasi kawasan pesisir," ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur juga mendorong pengembangan Vale Nickel Corner ke tahap yang lebih luas. Salah satu gagasan yang didorong adalah pengembangan fasilitas tersebut menjadi Museum Dunia Nikel.
Rencana tersebut diharapkan dapat memperkuat fungsi Vale Nickel Corner sebagai ruang edukasi sekaligus memperkenalkan sejarah dan perkembangan industri nikel kepada masyarakat.
Pengembangan Museum Dunia Nikel juga diarahkan agar Luwu Timur memiliki ikon edukasi dan destinasi wisata industri di Indonesia Timur. Dengan demikian, informasi mengenai industri nikel tidak hanya dapat diakses oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh pengunjung dari berbagai daerah.
Penguatan literasi industri tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam menyiapkan tenaga kerja lokal dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
Salah satu lembaga pendidikan yang menjalankan fungsi tersebut adalah Politeknik Sorowako.
Ketua Yayasan Pendidikan Sorowako, Firman Fauzie, mengatakan Politeknik Sorowako didirikan pada 1991 dengan fokus pada pendidikan vokasi. Pendidikan yang diberikan diarahkan untuk meningkatkan kesiapan kerja masyarakat di sekitar wilayah operasional PT Vale Indonesia.
“Politeknik Sorowako di bawah wilayah pendidikan Sorowako didirikan tahun 1991 dan memang fokusnya adalah untuk pendidikan vokasi. Jadi merupakan salah satu bentuk komitmen PT Vale Indonesia terhadap employability dari masyarakat sekitar di mana PT Vale Indonesia beroperasi,” ujar Firman.
Saat ini, Politeknik Sorowako memiliki tiga program studi. Menurut Firman, seluruh program tersebut diarahkan untuk mencetak tenaga kerja terampil yang siap memasuki dunia industri, terutama sektor pertambangan.
“Saat ini Politeknik Sorowako memiliki tiga program studi dan itu semuanya diarahkan kepada mencetak tenaga kerja yang skillful, yang siap kerja di dunia industri, khususnya di dunia pertambangan,” katanya.
Selain pendidikan formal, Politeknik Sorowako juga bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal.
(1).jpeg)
Mahasiswi Politeknik Sorowako. (Dokumentasi/ Istimewa)
Program tersebut diwujudkan melalui Vocational Short Term Training (VST). Pelatihan ini berlangsung selama dua hingga tiga bulan dengan fokus meningkatkan keterampilan dan kesiapan kerja peserta.
Firman mengatakan program VST telah dilaksanakan dalam beberapa batch. Dalam satu tahun, pelatihan dapat dilakukan sebanyak dua batch dengan peserta yang berasal dari masyarakat di wilayah pemberdayaan sekitar operasional PT Vale Indonesia.
“Politeknik Sorowako juga bekerja sama dengan Pemerintah Luwu Timur. Sudah banyak sekali batch yang kita lakukan, yaitu setahun bisa dua batch untuk melakukan VST atau Vocational Short Term Training,” ujarnya.
Menurut Firman, pelatihan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pada kesiapan peserta untuk memasuki dunia kerja.
“Itu adalah pelatihan selama dua atau tiga bulan. Fokusnya mengenai employability dan juga memberikan skill yang cukup untuk masyarakat lokal di mana PT Vale Indonesia beroperasi di empat wilayah pemberdayaan,” katanya.
Peserta pelatihan berasal dari kalangan pemuda dan pemudi di wilayah sekitar. Mereka mendapatkan rekomendasi atau usulan dari pemerintah desa maupun wilayah setempat untuk mengikuti program pelatihan.
Pengembangan pendidikan vokasi juga dirasakan langsung oleh mahasiswa Politeknik Sorowako. Salah satunya Fitri Oktaviani, mahasiswi yang mengambil Program Studi D3 PPM dengan spesialisasi Mechanical Drafting.
Fitri mengatakan fasilitas praktik di kampus menjadi salah satu pendukung dalam proses pembelajaran. Salah satu fasilitas yang digunakan mahasiswa adalah laboratorium CNC produksi.
Laboratorium tersebut digunakan untuk menunjang pembelajaran dan meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang teknik dan manufaktur.
“Ada dukungan daripada PT Vale untuk kampus ini. PT Vale juga betul-betul menyokong dan betul-betul mendukung fasilitas-fasilitas yang ada. Misalnya seperti yang ada di belakang saya ini, ini adalah lab CNC produksi,” kata Fitri.
Menurut Fitri, mesin CNC yang tersedia di laboratorium tersebut memiliki nilai investasi yang cukup besar dan menjadi salah satu fasilitas yang mendapatkan dukungan dari perusahaan.
“Mesin CNC itu juga harganya lumayan dan itu benar-benar sangat disupport oleh perusahaan juga,” ujarnya.
Dukungan tersebut, kata Fitri, tidak hanya diberikan dalam bentuk fasilitas pembelajaran. Mahasiswa juga merasakan dukungan dalam kegiatan akademik maupun nonakademik selama menjalani pendidikan di Politeknik Sorowako.
Fitri mengatakan pengalaman belajar yang diperoleh selama kuliah menjadi bekal untuk menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
“Saya melihat kalau kita kuliah di sini dari awal sampai saat ini juga, itu benar-benar kami didukung sekali, baik itu dari segi perkuliahannya maupun nonakademiknya juga,” katanya.
Sebagai mahasiswa yang mengambil spesialisasi Mechanical Drafting, Fitri berharap ilmu yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan dapat diterapkan di dunia industri.
“Saya berharap bahwa ke depannya nanti, apabila saya sudah lulus dari kampus ini, ilmu-ilmu yang saya dapatkan di sini, baik dari segi teori maupun praktiknya, bisa saya implementasikan di perusahaan-perusahaan yang relevan dengan jurusan saya,” ujar Fitri.
Kolaborasi antara industri, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri nikel juga berjalan beriringan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Literasi mengenai pertambangan berkelanjutan melalui Vale Nickel Corner menjadi salah satu sarana edukasi bagi masyarakat. Sementara pendidikan vokasi melalui Politeknik Sorowako diarahkan untuk membekali generasi muda dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.
Penguatan dua sektor tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan masyarakat lokal untuk memahami perkembangan industri sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan tenaga kerja di masa depan.
Bagi Luwu Timur, pengembangan literasi nikel dan pendidikan vokasi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas pertambangan, tetapi turut memperhatikan pengembangan manusia dan keberlanjutan lingkungan.
Melalui pengembangan Vale Nickel Corner, gagasan Museum Dunia Nikel, serta penguatan pendidikan vokasi, Luwu Timur diarahkan menjadi salah satu pusat literasi nikel dan pendidikan industri berkelanjutan di Indonesia Timur.
Di tengah perkembangan hilirisasi industri nikel, keberadaan sumber daya manusia lokal yang memiliki pengetahuan dan keterampilan menjadi bagian penting dalam mendukung kebutuhan industri.
Dari ruang edukasi di Perpustakaan Daerah Malili hingga laboratorium praktik di Politeknik Sorowako, upaya tersebut menjadi bagian dari investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi muda Luwu Timur menghadapi perkembangan industri dan dunia kerja.
Dengan demikian, warisan dari industri nikel tidak hanya diukur dari hasil tambang, tetapi juga dari pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Reporter: Sabda Rolle