Dolar AS Lagi-lagi Dipukul Mundur Euro hingga Yen

Dolar AS. Foto: Xinhua/Zhang Chunlei.

Dolar AS Lagi-lagi Dipukul Mundur Euro hingga Yen

Husen Miftahudin • 11 April 2026 10:39

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), di tengah kagetnya pasar keuangan lantaran data inflasi negara tersebut cetak rekor tertinggi.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 11 April 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,18 persen menjadi 98,645.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro naik menjadi USD1,1725 dari USD1,171 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3463 dari USD1,3446 pada sesi sebelumnya.

Dolar AS diperdagangkan pada 159,28 yen Jepang, lebih tinggi dari 158,98 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,7893 franc Swiss dari 0,7904 franc Swiss.

Mata uang Negeri Paman Sam itu naik menjadi 1,383 dolar Kanada dari 1,3822 dolar Kanada. Dolar AS merosot menjadi 9,2781 krona Swedia dari 9,2799 krona Swedia.
 

Baca juga: Harga BBM Meroket, Amerika Cetak Inflasi Tertinggi


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Amerika cetak inflasi tertinggi


Sementara itu, inflasi AS tercatat meningkat sebesar 3,3 persen secara tahunan (yoy) pada Maret 2026. Inflasi ini terjadi karena biaya energi melonjak, mencatat lonjakan terbesar dalam hampir dua tahun.

Tingkat pertumbuhan CPI pada Maret dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan peningkatan hampir satu poin persentase penuh dari laju tahunan Februari. Secara bulanan (mtm), harga konsumen secara keseluruhan naik 0,9 persen.

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi pendorong utama percepatan inflasi yang tajam ini. Indeks energi melonjak sebanyak 10,9 persen pada Maret, didorong oleh kenaikan harga bensin sebesar 21,2 persen, yang menyumbang hampir tiga perempat dari peningkatan bulanan di semua item.

Sementara itu, CPI inti, yang tidak termasuk komponen makanan dan energi yang fluktuatif untuk mengukur inflasi yang mendasar, meningkat lebih moderat, naik 0,2 persen (mtm) dan 2,6 persen (yoy).

Data tersebut mencerminkan periode kenaikan harga komoditas yang pesat sebelum gencatan senjata pada konflik yang terjadi di Timur Tengah. Meskipun gencatan senjata AS-Iran telah memberikan sedikit keringanan, biaya energi tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat sebelum perang.

Angka inflasi tahunan sebesar 3,3 persen menandai tingkat inflasi tertinggi selama masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump, mencapai level yang belum pernah terlihat sejak Mei 2024. Dampak berantai dari lonjakan energi dirasakan secara luas oleh konsumen Amerika.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)