Ilustrasi, emas batangan. Foto: sempsajp.com
Harga Emas Masih Berpeluang Cetak Rekor, ETF Jadi Kunci
Husen Miftahudin • 22 June 2026 08:49
Chicago: Perjalanan harga emas menuju target rekor USD5.200 per troy ons diperkirakan menghadapi tantangan yang semakin besar seiring sikap agresif Federal Reserve dalam kebijakan moneternya.
Mengutip Investing.com, Senin, 22 Juni 2026, dalam catatan riset terbaru, Morgan Stanley menilai prospek emas tetap positif hingga paruh kedua 2026. Namun, bank investasi tersebut mengingatkan laju kenaikan harga akan sulit berlanjut tanpa dukungan kuat dari arus masuk dana ke produk exchange-traded fund (ETF).
Analis komoditas Morgan Stanley Amy Gower dan Martijn Rats menyebut permintaan ETF masih menjadi elemen penting yang belum sepenuhnya pulih. "Bagian yang masih hilang adalah permintaan ETF, yang kemungkinan tetap sensitif terhadap arah kebijakan The Fed, imbal hasil riil, dan pergerakan dolar AS," tulis mereka.
Menurut Morgan Stanley, minat investor institusi melalui ETF akan sangat menentukan apakah reli emas mampu berlanjut ke level target berikutnya.
| Baca juga: Harga Emas Menuju Penurunan Mingguan Ketiga Berturut-turut |
Sikap hawkish Fed tekan harga emas
Setelah pernyataan dan proyeksi hawkish dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama meningkat. Kondisi tersebut memperbesar biaya peluang memegang emas, yang tidak menawarkan imbal hasil seperti instrumen obligasi.
Morgan Stanley memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini hingga 2026, meski terdapat risiko perlambatan di pasar tenaga kerja.
Ekspektasi itu mendorong imbal hasil riil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik signifikan dibandingkan level Februari lalu, yang kemudian memicu arus keluar bersih dari ETF emas.
Di sisi lain, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberi dukungan tambahan bagi harga emas. Morgan Stanley mencatat, secara historis emas kerap menghadapi tekanan saat terjadi guncangan pasokan energi, karena lonjakan harga minyak memicu inflasi dan memaksa bank sentral negara pengimpor minyak menjual cadangan emas untuk menjaga stabilitas fiskal.
Apabila de-eskalasi terus berlanjut, harga energi berpotensi turun, memberi ruang kebijakan moneter yang lebih longgar bagi bank sentral serta mengurangi tekanan likuidasi emas.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Bank sentral global jadi penopang
Meski minat investor ritel dan ETF melambat, permintaan dari bank sentral global masih menjadi fondasi kuat bagi harga emas. Salah satu pendorong utama berasal dari People's Bank of China yang terus menambah cadangan emas secara agresif.
Beijing tercatat membeli 23 ton emas sepanjang Maret hingga Mei 2026. Jumlah itu melampaui akumulasi 19 ton yang dibukukan selama 12 bulan sebelumnya. Tren tersebut memperlihatkan strategi diversifikasi cadangan devisa yang terus berlanjut di tengah ketidakpastian global.
Morgan Stanley juga menyoroti kinerja historis emas terhadap perubahan suku bunga The Fed. Secara rata-rata, harga emas naik 0,84 persen dalam satu bulan setelah kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Angka itu lebih rendah dibandingkan kenaikan 3,93 persen setelah pemangkasan suku bunga dengan besaran yang sama.
Beberapa periode seperti Juni 2006, Desember 2018, dan Maret 2023 menunjukkan emas tetap mampu menguat di tengah siklus pengetatan moneter. Pada periode tersebut, kenaikan suku bunga justru memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi, potensi kesalahan kebijakan, serta tekanan pada sektor perbankan.
Morgan Stanley menilai kelanjutan reli emas menuju level USD5.200 sangat bergantung pada kembalinya investor makro ke instrumen ETF. Perubahan itu diperkirakan baru akan terjadi apabila biaya energi yang lebih rendah mampu memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa waktu ke depan.