Dolar AS Masih Tertekan

Dolar AS. Foto: Freepik.

Dolar AS Masih Tertekan

Husen Miftahudin • 25 March 2026 09:08

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah di awal perdagangan Asia pada Rabu, dengan para pedagang berhati-hati atas upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran.
 
Mengutip data Yahoo Finance, Rabu, 25 Maret 2026, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang dunia lainnya, turun 0,1 persen menjadi 99,126.
 
Adapun, euro sedikit menguat dengan kenaikan 0,1 persen menjadi USD1,1619, sementara sebagian besar pasangan mata uang lainnya tetap tidak berubah. Poundsterling Inggris naik 0,1 persen menjadi USD1,3428, sedangkan dolar Selandia Baru tetap stabil di USD0,5834.
 
Terhadap yen, dolar AS tetap stabil di 158,645 yen, setelah rilis risalah rapat kebijakan Bank Sentral Jepang periode Januari yang menunjukkan banyak anggota dewan melihat perlunya terus menaikkan suku bunga tanpa menetapkan laju tertentu.
 
Di sisi lain, dolar Australia turun hingga 0,2 persen menjadi USD0,6983 sebelum pulih dan diperdagangkan stabil setelah rilis data inflasi untuk Februari, yang menunjukkan kenaikan 3,7 persen sebelum dimulainya perang AS-Israel dengan Iran, laju yang sedikit lebih lambat dari yang diperkirakan oleh para analis.
 

Baca juga: Dolar AS Tergelincir di Tengah Meredanya Konflik Timur Tengah


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Investor tetap waspada

 
Meskipun Trump mengatakan AS sedang membuat kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran, Teheran membantah negosiasi langsung telah terjadi, sehingga membuat investor tetap waspada.
 
Volatilitas yang tenang tersebut kontras dengan lonjakan harga saham berjangka dan penurunan tajam harga minyak mentah setelah Trump mengatakan AS sedang membuat kemajuan dalam upayanya untuk menegosiasikan pengakhiran perang.
 
Meskipun pasar masih memperkirakan tidak akan ada perubahan suku bunga AS tahun ini, ekspektasi pengetatan kebijakan semakin meningkat.
 
Kontrak berjangka dana Fed sekarang menyiratkan peluang 30,2 persen untuk kenaikan 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve Desember, naik tajam dari 8,2 persen sehari sebelumnya, menurut alat FedWatch dari CME Group.
 
Gubernur Fed Michael Barr mengatakan pada Selasa bahwa The Fed mungkin perlu mempertahankan suku bunga tetap stabil untuk beberapa waktu sebelum pemotongan lebih lanjut diperlukan, seraya mencatat inflasi yang terus berlanjut di atas target dua persen The Fed dan risiko yang ditimbulkan oleh konflik di Timur Tengah.
 
Pasar obligasi pulih setelah pekan yang bergejolak, dengan imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun turun lima basis poin menjadi 4,338 persen. Harga minyak yang lebih tinggi menambah ekspektasi peningkatan tekanan inflasi dan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)