Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com
Harga Emas Masih Dibayangi Tekanan Bearish, Simak Proyeksinya Hari Ini
Husen Miftahudin • 28 May 2026 10:34
Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Berdasarkan analisis Dupoin Futures oleh Geraldo Kofit, pergerakan pasangan XAU/USD pada timeframe daily masih menunjukkan tren bearish yang cukup kuat. Tekanan jual masih mendominasi pasar seiring harga yang belum mampu keluar dari area resistance penting.
Secara teknikal, harga emas saat ini masih bergerak di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Kondisi tersebut menandakan arah tren utama masih cenderung turun.
"Dalam analisis teknikal, posisi harga di bawah MA biasanya menunjukkan pasar masih berada dalam fase bearish dan peluang pelemahan masih cukup besar," ungkap Geraldo seperti dikutip dari analisis hariannya, Kamis, 28 Mei 2026.
Selain itu, lanjut dia, harga emas juga baru saja mengalami breakout dan retest pada area support minor yang sebelumnya menjadi level penting. Kondisi ini memperlihatkan tekanan jual masih cukup kuat dan membuka peluang bagi harga untuk kembali melanjutkan penurunan menuju area support berikutnya.
Menurut Geraldo, area support yang perlu diperhatikan saat ini berada di kisaran USD4.349 hingga USD4.247. Area tersebut diperkirakan menjadi target pelemahan berikutnya apabila tekanan bearish masih terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Dari sisi indikator teknikal lainnya, Stochastic Oscillator juga masih menunjukkan ruang penurunan menuju area oversold atau jenuh jual. Meski area oversold sering dianggap sebagai sinyal harga sudah terlalu rendah, hingga saat ini belum terlihat adanya tanda pembalikan arah yang kuat.
"Artinya, peluang pelemahan harga emas masih cukup terbuka selama belum ada sinyal teknikal yang mampu mengubah arah tren utama. Selama harga masih bergerak di bawah MA 21 dan MA 50, tekanan bearish diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan pasar," papar Geraldo.
| Baca juga: Harga Emas Turun, Kilaunya Dicuri Dolar AS |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Tertekan dolar hingga obligasi
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas juga dipengaruhi oleh kuatnya dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury Yield. Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih memilih instrumen investasi berbasis dolar yang dianggap memberikan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas.
Seperti diketahui, emas merupakan aset non-yielding atau aset yang tidak memberikan bunga maupun imbal hasil tetap. Karena itu, ketika suku bunga dan yield obligasi berada di level tinggi, minat investor terhadap emas biasanya akan menurun.
Selain itu, jelas Geraldo, pasar juga masih melihat peluang bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ekspektasi tersebut muncul apabila data ekonomi Amerika Serikat, seperti inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi, masih menunjukkan kondisi yang cukup solid.
"Jika kondisi ekonomi AS tetap kuat, maka peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat akan semakin kecil. Situasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena dapat kembali mendorong penguatan dolar AS," papar dia.
Di sisi lain, mulai meredanya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global juga ikut mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Ketika sentimen pasar membaik dan investor lebih optimis terhadap pasar saham maupun ekonomi global, aliran dana biasanya berpindah dari aset aman menuju aset berisiko.
Kondisi ini membuat harga emas semakin sulit mendapatkan dorongan naik dalam jangka pendek. Hingga saat ini, pasar juga masih belum memiliki katalis besar yang mampu mengangkat permintaan emas secara signifikan.
Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, pergerakan XAU/USD diperkirakan masih berpotensi melanjutkan pelemahan dalam jangka pendek hingga menengah. Area support USD4.349 hingga USD4.247 menjadi level penting yang akan diperhatikan pelaku pasar dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.
Meski demikian, investor tetap disarankan untuk mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi volatilitas harga emas.
"Jika muncul sentimen baru yang mampu meningkatkan permintaan safe haven, maka peluang rebound harga emas tetap terbuka meskipun tren utama saat ini masih bearish," ucap Geraldo.