Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Turun ke Rp17.744/USD, Dipicu Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS
Ade Hapsari Lestarini • 25 May 2026 17:17
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini turun 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.744 per USD dari sebelumnya Rp17.717 per USD. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak turun ke level Rp17.743 per USD dari sebelumnya Rp17.717 per USD.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah disebabkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
"Salah satu gubernur Bank Sentral Amerika yaitu Christopher Waller, dia mengatakan jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target, dia tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga. Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga," ujar dia dalam rekaman suara di Jakarta, dilansir Antara, Senin, 25 Mei 2026.
Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai berpotensi akan menaikkan suku bunga apabila inflasi masih cukup tinggi, kendati Presiden AS Donald Trump tidak menyerukan penurunan suku bunga dalam kondisi saat ini. Hal ini yang membuat kemungkinan besar suku bunga tetap tinggi hingga akhir 2026.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Pasar tunggu rilis data PDB AS kuartal I
Seiring dengan itu, pasar turut menunggu rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal I-2026, lalu data perumahan, indikator inflasi pilihan The Fed, hingga indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti. Sentimen lain berasal dari optimisme pasar atas kesepakatan perdamaian antara AS dengan Iran, kendati masih terdapat perselisihan terkait Selat Hormuz.
"Kita harus ingat juga, apakah nota kesepakatan ini akan ditandatangani atau tidak, karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah uranium. Kemudian yang kedua tentang masalah dana yang dibekukan dari tahun 70-an. Ya, ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total," kata dia.
Adapun sentimen dari internal, menurut dia, masih disebabkan permasalahan defisit anggaran yang menjadi momok oleh pasar.
"Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah," ungkap Ibrahim.