Rupiah Jumat Sore Diperdagangkan ke Level Rp16.979/USD

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Rupiah Jumat Sore Diperdagangkan ke Level Rp16.979/USD

Ade Hapsari Lestarini • 27 March 2026 17:43

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan sore ini masih terpantau turun jelang akhir pekan.

Mengacu data Bloomberg, Jumat, 27 Maret 2026, rupiah melemah 75,5 poin atau setara 0,45 persen ke posisi Rp16.979 per USD jika dibandingkan perdagangan pagi yang berada di posisi Rp16.930 per USD.

Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah juga melemah 62 poin atau setara 0,06 persen menjadi Rp16.960 per USD dibandingkan sebelumnya yang berada di posisi Rp16.898 per USD.

Adapun data informasi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah berada di posisi Rp16.957 per USD. JISDOR adalah kurs referensi bank sentral yang digunakan sebagai dasar transaksi perdagangan berbasis valuta asing.


Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
 

 

Volatilitas harga minyak dunia


Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova mengatakan pelemahan dipengaruhi volatilitas harga minyak dunia.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp16.870-Rp16.920 dipengaruhi oleh global harga minyak dunia yang masih dengan volatilitas yang tinggi dan ketidakpastian berakhirnya perang AS-Israel dengan Iran," ucap dia kepada Antara, Jumat, 27 Maret 2026.

Mengutip Sputnik, anggota parlemen Iran Mohammadreza Rezaei Kouchi menyatakan Iran ingin melegalkan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Pada 24 Maret 2026, Bloomberg melaporkan Iran sudah mulai mengenakan biaya hingga USD2 juta (sekitar Rp33,8 miliar) bagi kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Eskalasi di sekitar Iran menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global. Kondisi itu juga memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut dan mendorong kenaikan harga di dunia.

Melihat sentimen domestik, pasar disebut khawatir atas peningkatan tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak, diiringi kewaspadaan potensi defisit anggaran sebesar tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) terlampaui.

“Sebelum pecah perang AS-Israel dan Iran tren inflasi sudah mulai meningkat, ditambah kenaikan harga minyak yang akan menambah biaya produksi industri dan harga jual barang,” ungkap Rully.

“Langkah yang dapat dilakukan pemerintah di antaranya dengan menjaga daya beli masyarakat melalui program-program di antaranya bantuan tunai dan insentif listrik serta penghematan di lembaga dan kementerian,” ujar dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)