Dukung PP Tunas, Mendikdasmen: Teknologi Jadi Alat Dukung Pendidikan

Murid SD. Foto Kemendikdasmen

Dukung PP Tunas, Mendikdasmen: Teknologi Jadi Alat Dukung Pendidikan

Muhamad Marup • 28 March 2026 17:09

Jakarta: Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) mulai aktif mulai Sabtu hari ini, 28 Maret 2026. Aturan tersebut memberikan batasan penggunaan platform digital sesuai usia anak.

Merespons hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyatakan, dukungannya terhadap implementasi peraturan tersebut. Menurutnya, teknologi harus tetap jadi alat dukung pendidikan.

"Kebijakan penundaan akses anak pada platform digital berisiko merupakan langkah yang penting untuk memastikan teknologi tetap menjadi alat pendukung pendidikan," ujar Mu'ti, dalam keterangan resminya, Sabtu, 28 Maret 2026.

Dia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak perlu khawatir terhadap penerapan kebijakan ini. Pihaknya akan terus memastikan program literasi digital di seluruh institusi pendidikan berjalan secara paralel.

Selain itu, proses edukasi berbasis digital di sekolah tetap juga akan dilaksanakan dengan pendampingan guru. Dengan demikian, peserta didik dapat memanfaatkan teknologi secara optimal dan bijak.

"Seluruh guru di pendidikan dasar dan menengah memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung dan menyukseskan kebijakan ini," jelasnya.

Mu'ti mengungkapkan, salah satu dukungan program dari Kemendikdasmen adalah implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) dan penerapan Screen Time, Screen Zone, dan Screen Break (3S). Menurutnya, suasana pembelajaran yang sehat merupakan fondasi penting dalam proses penyelenggaraan pendidikan.


Proses belajar mengajar. Foto Kemendikdasmen

"Dengan hal itu, peserta didik dapat belajar, berinteraksi dengan sesama teman dan guru, serta membangun karakter sesuai dengan usia tumbuh kembangnya," katanya.

Dalam prosesnya, lanjut Mendikdasmen, perwujudan suasana sehat bagi peserta didik masih terdapat adiksi pada penggunaan gawai yang berlebihan dan berdampak negatif pada proses pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Dampak negatif tersebut pada akhirnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk berupaya menciptakan ekosistem pendidikan yang optimal bagi peserta didik.

"Pada akhirnya, teknologi adalah alat, tetapi karakter adalah kemudi," terangnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)