Harga Emas Stabil di USD4.426 Jelang Keputusan The Fed

Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com

Harga Emas Stabil di USD4.426 Jelang Keputusan The Fed

Husen Miftahudin • 7 September 2026 08:43

Chicago: Harga emas dunia bertahan di kisaran USD4.400 per troy ons pada perdagangan Senin, 7 September 2026. Pergerakan emas dipengaruhi data penggajian Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan serta meningkatnya kembali ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

Kondisi tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan depan.

Mengutip Investing.com, harga emas spot atau XAU/USD relatif stabil di USD4.426,93 per troy ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas turun tipis menjadi USD4.473,66 per troy ons.

Pergerakan logam mulia lainnya bervariasi. Harga perak atau XAG/USD naik 0,2 persen menjadi USD66,37 per troy ons, sedangkan platinum atau XPT/USD turun 0,5 persen menjadi USD1.813,77 per troy ons. Indeks Dolar AS turun 0,2 persen menjadi 99,09.
 

 

Data tenaga kerja AS tekan harga emas


Perusahaan-perusahaan di AS menambah 162 ribu lapangan kerja pada Agustus 2026, melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, tingkat pengangguran tetap stabil.

Data tersebut menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat. Hal ini memperkuat spekulasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam pertemuan pada 15-16 September 2026.

Pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 60 persen. Kenaikan suku bunga cenderung membuat aset yang menghasilkan pendapatan menjadi lebih menarik dibandingkan aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas.

Penguatan dolar AS pada Jumat turut memberikan tekanan terhadap harga emas. Penguatan mata uang AS membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Pergerakan tersebut terjadi setelah harga emas mengalami perdagangan yang cukup fluktuatif sepanjang pekan lalu. Harga emas hampir tidak berubah di sekitar USD4.429 per troy ons, tetapi secara mingguan tercatat turun 0,6 persen.

Investor berulang kali menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed seiring keluarnya sejumlah data ekonomi AS.

Perhatian investor kini beralih ke data harga konsumen AS yang dijadwalkan dirilis pada akhir pekan ini. Data tersebut dinilai menjadi salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran tambahan mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed dalam pertemuan September.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Ketegangan Selat Hormuz picu risiko inflasi


Selain kebijakan moneter AS, perkembangan di Selat Hormuz turut menjadi perhatian pasar.

Iran menyatakan telah menargetkan tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz serta beberapa kapal yang terkait dengan AS. Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas serangan AS terhadap sejumlah kapal pada akhir pekan sebelumnya.

Bentrokan terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran aliran energi melalui jalur strategis tersebut.

Harga minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati USD97 per barel. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Harga emas masih bergerak dalam kisaran relatif terbatas sejak pulih dari level terendah sekitar USD4.000 per troy ons pada Juli 2026. Pekan lalu, harga emas turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di sekitar USD4.526 per troy ons. Kondisi tersebut memberikan tekanan teknis dalam jangka pendek.

Analis pasar senior IG Tony Sycamore mengatakan penurunan tersebut tidak mengubah pandangan jangka menengahnya terhadap emas. Menurut dia, harga emas telah membentuk basis pada level terendah akhir Juni di sekitar USD3.942 per troy ons.

Sycamore tetap memilih strategi membeli ketika harga mengalami penurunan. Dia memperkirakan harga emas pada akhirnya dapat bergerak menuju USD5.000 per troy ons.

(Husen Miftahudin)