Ilustrasi. Foto: Unplash
Harga Emas Naik Seiring Ekspektasi Suku Bunga The Fed Tetap
Eko Nordiansyah • 19 October 2026 09:01
Chicago: Harga emas dunia naik pada Senin, 19 Oktober 2026, karena para investor mengurangi ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini. Hal ini menyusul pernyataan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh. Di saat yang sama, ekspektasi suku bunga akan tetap dipertahankan memberikan dukungan bagi harga emas.
Dikutip dari Investing, harga emas spot naik 0,2 persen menjadi USD4.173,59 per ons. Sementara harga emas berjangka AS naik 0,3 persen menjadi USD4.194,05.
Harga perak menguat 0,6 persen menjadi USD57,3070 per ons, dan platinum naik 0,4 persen menjadi USD1.641,66. Paladium naik 0,8 persen menjadi USD1.125,05, sementara Indeks Dolar AS tidak banyak berubah di angka 101,82.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mereda
Harga emas dunia sempat ditutup turun 0,7 persen pada minggu sebelumnya. Para pedagang menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase menjadi di bawah 20 persen, setelah pernyataan Warsh diinterpretasikan sebagai sinyal untuk mempertahankan suku bunga saat The Fed mengadakan pertemuan minggu depan.Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan pada pekan lalu sempat memicu kembali ekspektasi akan pengetatan kebijakan lebih lanjut dan mendorong penguatan dolar, namun komentar dari ketua The Fed menghentikan laju penguatan tersebut.
Biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya memberikan tekanan pada emas karena aset ini tidak menghasilkan bunga. Meski demikian, harga emas tetap bertahan di atas level dukungan (support) penting di angka USD4.000 per ons sejak Agustus.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Permintaan emas masih tinggi
Permintaan terhadap aset aman (safe haven) menjadi penopang harga setelah sempat merosot ke zona pasar bearish akibat perang awal tahun ini. Secara keseluruhan, harga emas masih turun sekitar seperlima sejak konflik AS-Iran meletus pada akhir Februari.Analis ANZ menyatakan kekhawatiran mengenai fiskal dan keberlanjutan utang membuat imbal hasil (yield) yang tinggi tidak lagi dipandang sebagai tanda pertumbuhan ekonomi yang kuat, melainkan justru menjadi alasan untuk memegang emas sebagai instrumen lindung nilai.
Hal ini mendukung prospek jangka panjang emas, meskipun dalam jangka pendek terdapat tekanan dari imbal hasil yang tinggi dan dolar yang kuat, kondisi yang berpotensi memicu aksi jual lebih lanjut sebelum akhirnya terjadi kenaikan harga yang berkelanjutan.
Para investor Tiongkok terus memilih emas di tengah pelemahan pasar ekuitas dan properti, sementara bank sentral berbagai negara juga semakin gencar mendiversifikasi cadangan devisa mereka agar tidak terlalu bergantung pada satu jenis aset saja, tambah mereka.
ANZ memperkirakan potensi kenaikan harga emas akan tetap terbatas dalam jangka pendek, sebelum akhirnya bergerak melampaui USD5.000 per ons pada 2027. Prospek dari bank tersebut sebagian bergantung pada berlanjutnya minat investasi dan permintaan dari bank sentral, di tengah upaya para investor dalam mencermati arah kebijakan suku bunga AS serta pergerakan nilai dolar.