Data Ekonomi AS Dongkrak Kenaikan Saham AS, Nasdaq 'Bawa Kabur' Cuan Paling Banyak

Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Xinhua/Wang Ying.

Data Ekonomi AS Dongkrak Kenaikan Saham AS, Nasdaq 'Bawa Kabur' Cuan Paling Banyak

Husen Miftahudin • 19 February 2026 08:41

New York: Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup lebih tinggi pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), dengan saham-saham teknologi kembali menguat seiring investor mencermati indikator makro terbaru dan risalah rapat Federal Reserve.
 
Mengutip Xinhua, Kamis, 19 Februari 2026, indeks Dow Jones Industrial Average naik 129,47 poin, atau 0,26 persen, menjadi 49.662,66. Indeks S&P 500 bertambah 38,09 poin, atau 0,56 persen, menjadi 6.881,31. Indeks Nasdaq Composite naik 175,25 poin, atau 0,78 persen, menjadi 22.753,63.
 
Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup di wilayah positif, dipimpin oleh sektor energi dan barang konsumsi non-esensial dengan kenaikan masing-masing dua persen dan satu persen. Sektor utilitas dan real estat merupakan sektor yang mengalami penurunan utama, masing-masing turun 1,7 persen dan 1,45 persen.
 
Adapun, produksi manufaktur AS naik 0,6 persen pada Januari 2026, kenaikan terbesar sejak Februari 2025. Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan pertumbuhan baik dalam izin pembangunan maupun pembangunan perumahan baru untuk Desember 2025.
 

Baca juga: Wall Street Naik Tipis di Tengah Kekhawatiran Tentang A


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
 

Saham teknologi paling banyak raup cuan

 
Saham-saham teknologi memimpin kenaikan pada Rabu. Nvidia naik 1,63 persen setelah Meta mengungkapkan kesepakatan baru yang besar untuk membeli jutaan chip Nvidia untuk infrastruktur AI-nya.
 
Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar lainnya ditutup lebih tinggi, dengan Amazon naik 1,81 persen meskipun Berkshire Hathaway melaporkan hampir selesainya penjualan saham lamanya. Apple, Alphabet, Microsoft, dan Meta mencatat kenaikan moderat.
 
Kenaikan melambat pada perdagangan sore hari setelah Federal Reserve merilis risalah dari pertemuan kebijakan Januari, yang menunjukkan para pembuat kebijakan memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang kebijakan moneter.
 
Catatan rapat tersebut menyatakan, beberapa peserta berkomentar penyesuaian lebih lanjut ke bawah terhadap kisaran target suku bunga dana federal kemungkinan akan tepat jika inflasi menurun sesuai dengan harapan mereka.
 
Pasar terus memperkirakan dua kali penurunan suku bunga di sepanjang 2026, dengan ekspektasi untuk langkah selanjutnya sebagian besar tetap sama pada Juni. Perhatian kini beralih ke rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi Desember pada Jumat, yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)