Tangkapan layar video F-15 jatuh di Kuwait. Foto: Telegram IRGC
Pesawat F-15 Jatuh di Kuwait, Dua Pilot Dilaporkan Selamat
Riza Aslam Khaeron • 2 March 2026 13:41
Kuwait: Sebuah jet tempur militer yang diidentifikasi sebagai F-15 dilaporkan jatuh di wilayah Kuwait pada Senin, 2 Maret 2026. Kedua awak pesawat yang terdiri dari satu pilot pria dan satu pilot wanita berhasil menyelamatkan diri menggunakan kursi lontar sebelum pesawat menghantam tanah.
Laporan dari Middle East Eye (MEE) menyebutkan bahwa meskipun identitas kru belum dapat diverifikasi secara independen, beberapa sumber mensinyalir bahwa pilot tersebut kemungkinan berkebangsaan Amerika Serikat atau Israel.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan regional yang dipicu oleh serangan udara gabungan AS-Israel terhadap Teheran.
Di saat yang sama, otoritas militer Kuwait melaporkan adanya aktivitas pertahanan udara yang intens di ibu kota.
Melansir MEE, Brigadir Jenderal Mohammad al-Mansouri, menyatakan bahwa Angkatan Pertahanan Udara Kuwait berhasil menetralisir sebagian besar drone asing yang mencoba mendekati wilayah Salwa dan Hawally. Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengeklaim kepemilikan atas drone-drone tersebut.

Terduga pilot pesawat yang jatuh. (Telegram IRGC)
Ketegangan ini semakin meluas setelah Inggris secara resmi mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer mereka untuk melancarkan operasi terhadap situs rudal Iran. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dalam keterangannya dari Downing Street menegaskan posisi negaranya dalam operasi tersebut.
"Kami telah mengerahkan jet-jet Inggris di udara sebagai bagian dari operasi pertahanan terkoordinasi, yang telah berhasil mencegat serangan-serangan Iran," ujar Starmer pada Minggu, 1 Maret 2026.
| Baca Juga: PM Lebanon Sebut Serangan Hizbullah ke Israel Tidak Bertanggung Jawab |
"Amerika Serikat telah meminta izin untuk menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris untuk tujuan pertahanan yang spesifik dan terbatas tersebut," tambahnya.
Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris menyatakan kesiapan mereka untuk mengambil langkah defensif guna melindungi kepentingan sekutu di kawasan Teluk.

Terduga pilot pesawat yang jatuh. (Telegram IRGC)
Analis geopolitik dari Eurasia Group, Firas Maksad, memperingatkan bahwa tindakan Iran yang menyasar target sipil dan ekonomi di Teluk—mulai dari hotel mewah hingga pelabuhan—akan memaksa negara-negara Arab untuk berpihak.
"Iran memaksa negara-negara GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) untuk naik ke tangga eskalasi," kata Maksad. "Mereka harus mempertimbangkan untuk memberikan respons atau, setidaknya, memberikan kebebasan operasional yang lebih besar bagi AS untuk melakukan operasi ofensif dari wilayah mereka."
Senada dengan hal tersebut, Menteri Negara untuk Kerja Sama Internasional UEA, Reem Al Hashimy, memberikan isyarat bahwa negaranya kemungkinan akan membuka wilayah udara dan akses pangkalan militer bagi pasukan AS jika serangan balasan dari Iran terus berlanjut dan mengancam stabilitas kawasan.