Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (VENNAS AIHII XVII). Foto: Istimewa
AHY Tekankan Politisi dan Akademisi Jangan Berjarak
Muhamad Marup • 20 October 2026 18:05
Jakarta: Persoalan global juga menuntut hubungan yang lebih erat antara pemikiran akademik dan pengambilan keputusan politik. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan bahwa politisi dan akademisi tidak boleh berjarak.
"Politisi tidak boleh jauh dari akademisi, begitu juga sebaliknya," ujar AHY, dalam Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (VENNAS AIHII XVII), di Jakarta, pekan lalu.
Ia menilai, politisi yang berjarak dengan akademisi bisa salah mengambil keputusan. Di sisi lain, akademisi yang jauh dari politisi bisa terjebak dalam angan-angan.
AHY juga menilai AIHII memiliki nilai strategis melalui jejaring antarkampus dan forum internasional yang dapat menjembatani gagasan akademik dengan kebijakan.
"Sebuah gagasan harus dibuktikan dan dieksekusi,” jelas AHY.
Di tengah keterhubungan global yang semakin erat, hubungan antarnegara masih diwarnai ketegangan dan konflik. Perbedaan kepentingan dan pandangan bahkan memicu konflik bersenjata.
Situasi ini menjadikan kajian Hubungan Internasional semakin penting untuk memahami dinamika global dan membangun kerja sama di tengah perbedaan. VENNAS AIHII XVII tahun ini mengusung tema “Beyond Fragmentation: The Constellation of Power, Innovation, and the Future of Global Governance” untuk memperkuat pertukaran gagasan dan kolaborasi dalam merespons dinamika global.

Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (VENNAS AIHII XVII). Foto: Istimewa
Rektor President University, Handa Abidin, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada universitas sebagai tuan rumah. Ia juga berharap hubungan antara dunia akademik dan praktik diplomasi dapat semakin erat.
"Kami berharap para akademisi semakin dilibatkan dan pemikiran para profesor serta doktor semakin didengar. Dengan demikian, diplomasi Indonesia di berbagai bidang dapat memberikan dampak yang lebih baik demi terwujudnya Indonesia yang sukses dan sejahtera," katanya.
Forum ini dihadiri sekitar 200 peserta dari 70 perguruan tinggi, termasuk akademisi dan mahasiswa Hubungan Internasional dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Dalam rangkaian kegiatan ini, dilakukan penyerahan simbolis hibah alat bantu belajar senilai Rp260 juta dari tim Jiuxuewang serta penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) antara President University dan PT Midea, PT XCMG, PT Haier, PT Green Cold, serta PT AICE.
Di luar itu, jumlah mahasiswa aktif Hubungan Internasional pada periode 2021–2024 berada pada kisaran 37.000 hingga 40.000 orang. Kondisi tersebut mencerminkan besarnya potensi talenta di bidang Hubungan Internasional yang dapat menjadi sumber daya untuk menghasilkan perspektif dan masukan kebijakan dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.
"Politisi tidak boleh jauh dari akademisi, begitu juga sebaliknya," ujar AHY, dalam Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (VENNAS AIHII XVII), di Jakarta, pekan lalu.
Ia menilai, politisi yang berjarak dengan akademisi bisa salah mengambil keputusan. Di sisi lain, akademisi yang jauh dari politisi bisa terjebak dalam angan-angan.
AHY juga menilai AIHII memiliki nilai strategis melalui jejaring antarkampus dan forum internasional yang dapat menjembatani gagasan akademik dengan kebijakan.
"Sebuah gagasan harus dibuktikan dan dieksekusi,” jelas AHY.
Di tengah keterhubungan global yang semakin erat, hubungan antarnegara masih diwarnai ketegangan dan konflik. Perbedaan kepentingan dan pandangan bahkan memicu konflik bersenjata.
Situasi ini menjadikan kajian Hubungan Internasional semakin penting untuk memahami dinamika global dan membangun kerja sama di tengah perbedaan. VENNAS AIHII XVII tahun ini mengusung tema “Beyond Fragmentation: The Constellation of Power, Innovation, and the Future of Global Governance” untuk memperkuat pertukaran gagasan dan kolaborasi dalam merespons dinamika global.

Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (VENNAS AIHII XVII). Foto: Istimewa
Rektor President University, Handa Abidin, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada universitas sebagai tuan rumah. Ia juga berharap hubungan antara dunia akademik dan praktik diplomasi dapat semakin erat.
"Kami berharap para akademisi semakin dilibatkan dan pemikiran para profesor serta doktor semakin didengar. Dengan demikian, diplomasi Indonesia di berbagai bidang dapat memberikan dampak yang lebih baik demi terwujudnya Indonesia yang sukses dan sejahtera," katanya.
Forum ini dihadiri sekitar 200 peserta dari 70 perguruan tinggi, termasuk akademisi dan mahasiswa Hubungan Internasional dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Dalam rangkaian kegiatan ini, dilakukan penyerahan simbolis hibah alat bantu belajar senilai Rp260 juta dari tim Jiuxuewang serta penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) antara President University dan PT Midea, PT XCMG, PT Haier, PT Green Cold, serta PT AICE.
Baca Juga :