Rupiah Dibuka ke Rp17.948/USD Hari Ini

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka ke Rp17.948/USD Hari Ini

Eko Nordiansyah • 15 October 2026 09:16

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelamahan. Rupiah kembali melemah dari dolar AS yang menguat usai rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang lebih tinggi dari perkiraan.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 15 Oktober 2026, rupiah berada di level Rp17.948 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 45 poin atau setara 0,25 persen dari Rp17.903 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.893 per USD. Rupiah bergerak menguat dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin sebesar Rp17.925 per USD.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah fluktuatif cederung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah diproyeksi melemah di rentang Rp17.900-Rp17.950 per USD.

Menurut riset Ibrahim, gerak rupiah dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini dipicu serangan kelompok Houti ke sebuah gedung administrasi milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco di kota Dhahran. 

Selain itu, Iran sedang menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz guna menjaga harga minyak tetap tinggi dan memengaruhi pemilihan umum paruh waktu AS. 

Rupiah juga dipengaruhi rilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS. IHK umum (headline CPI) naik 0,6 persen secara bulanan pada September, sementara IHK inti (core CPI) naik 0,3 persen secara bulanan lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi masing-masing sebesar 0,6 persen dan 0,2 persen.

Data CPI ini kembali membuka peluang kenaikan suku bunga pada Oktober. Menurut perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin (25 basis poin) akhir bulan ini meningkat menjadi sekitar 47 persen, naik dari sebelumnya hampir 22 persen, menyusul dirilisnya data inflasi konsumen.

(Eko Nordiansyah)