Dolar AS Lanjutkan Keperkasaan, Euro hingga Yen Kembali 'Bertekuk Lutut'

Dolar AS. Foto: Xinhuanet.

Dolar AS Lanjutkan Keperkasaan, Euro hingga Yen Kembali 'Bertekuk Lutut'

Husen Miftahudin • 22 July 2026 08:22

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan pada perdagangan Selasa waktu setempat. Penguatan didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta meningkatnya permintaan aset aman di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah.
 
Mengutip Investing.com, Rabu, 22 Juli 2026, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,2 persen menjadi 101,17, level tertinggi sejak 13 Juli 2026.
 
Berdasarkan data Xinhua, euro ditutup melemah menjadi USD1,1403 dari USD1,1415 pada perdagangan sebelumnya. Poundsterling juga turun menjadi USD1,3381 dari USD1,3436.
 
Sementara itu, dolar AS menguat terhadap yen Jepang menjadi 163,18 yen, dibandingkan 162,50 yen pada sesi sebelumnya. Penguatan dolar juga terjadi terhadap mata uang utama lainnya.
 
Dolar AS juga naik menjadi 0,8129 franc Swiss dari 0,8100 franc Swiss, menguat menjadi 1,4107 dolar Kanada dari 1,4059 dolar Kanada, serta meningkat menjadi 9,7035 krona Swedia dari 9,6856 krona Swedia.
 

 

Harga minyak picu kekhawatiran inflasi

 
Pekan lalu, indeks dolar sempat tertekan setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan moderasi inflasi. Data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) mengindikasikan perlambatan tekanan harga.
 
Selain itu, penjualan ritel SPBU turun secara bulanan, sementara survei Universitas Michigan menunjukkan sentimen konsumen Juli mencapai level tertinggi sejak Februari dan ekspektasi inflasi dalam satu tahun ke depan menurun.
 
Kondisi tersebut sempat memperkuat ekspektasi pasar Federal Reserve (The Fed) tidak perlu segera memperketat kebijakan moneter.
 
Namun, meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Iran mendorong harga minyak dunia naik sehingga memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi. Situasi ini turut memengaruhi proyeksi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.
 
Sejumlah pejabat bank sentral AS, termasuk Ketua The Fed Kevin Warsh saat memberikan keterangan di Kongres, menyatakan upaya menekan inflasi masih belum selesai. Presiden Federal Reserve Bank of Dallas Lorie Logan juga menilai suku bunga kemungkinan perlu berada pada level yang sedikit lebih tinggi.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Konflik Timur Tengah perkuat permintaan dolar

 
Harga minyak mentah acuan telah naik hampir 4 persen sejak Senin setelah mencatat lonjakan dua digit pada pekan lalu. Konflik di Timur Tengah terus meningkat setelah AS melanjutkan serangan terhadap Iran selama sepuluh hari berturut-turut. Iran membalas dengan menyerang sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
 
"Iran telah diberi setiap kesempatan untuk bernegosiasi, untuk menunjukkan bahwa mereka bersikap masuk akal di Selat Hormuz. Namun, jika mereka menembaki kapal-kapal komersial, kami akan menyerang mereka sepuluh kali lebih keras. Setiap malam, kami semakin mempermalukan mereka," kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
 
Pada kesempatan yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran ingin melakukan pertemuan, tetapi pemerintah AS belum tertarik melanjutkan pembicaraan hingga Teheran dinilai siap melakukan negosiasi secara bermakna.
 
Trump juga kembali menegaskan Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir dan memperingatkan akan menyerang setiap lokasi yang diduga terkait program nuklir negara tersebut.

(Husen Miftahudin)