Dolar AS. Foto: dok MI.
Dolar AS 'Dipukul Mundur' 6 Mata Uang Utama Dunia di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Husen Miftahudin • 23 July 2026 08:32
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah mencapai level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Meski demikian, pelemahan mata uang Negeri Paman Sam itu tertahan oleh kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Mengutip Xinhua, Kamis, 23 Juli 2026, indeks dolar yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,05 persen menjadi 101,125.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1411 dari USD1,1403 pada sesi sebelumnya. Sementara itu, poundsterling melemah ke USD1,3373 dari USD1,3381.
Dolar AS juga diperdagangkan di level 163,13 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan 163,18 yen pada sesi sebelumnya. Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap franc Swiss menjadi 0,8146 dari 0,8129.
Terhadap dolar Kanada, mata uang AS melemah menjadi 1,4085 dari 1,4107. Dolar AS juga turun terhadap krona Swedia menjadi 9,7014 dari 9,7035.
Harga minyak kembali menguat
Pergerakan dolar terjadi di tengah kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi. Sebelumnya, indeks dolar sempat tertekan setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan moderasi inflasi.
Indeks harga konsumen dan indeks harga produsen mencatat perlambatan, sementara penjualan ritel di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) menurun secara bulanan.
Di sisi lain, survei Universitas Michigan menunjukkan sentimen konsumen pada Juli mencapai level tertinggi sejak Februari. Survei tersebut juga memperlihatkan penurunan ekspektasi inflasi untuk satu tahun ke depan.
Data tersebut memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tidak terburu-buru memperketat kebijakan moneternya. Namun, meredanya tekanan harga pada Juni sebagian dipengaruhi penurunan harga minyak setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan perdamaian sementara.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Ketegangan AS-Iran picu kekhawatiran
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat sehingga mendorong harga minyak naik dan memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi.
Kedua negara dilaporkan telah terlibat aksi saling serang selama sebelas hari berturut-turut. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Kekhawatiran pasar juga bertambah setelah muncul ancaman terhadap Selat Bab el-Mandeb dari kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Gangguan pada dua jalur pelayaran tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
Seiring meningkatnya risiko geopolitik, harga minyak mentah Brent sempat menembus USD95 per barel pada perdagangan Rabu, level tertinggi sejak 11 Juni.
Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social menyatakan AS akan merespons setiap serangan Iran terhadap kapal di Selat Hormuz dengan menyerang infrastruktur tertentu di Iran.
Pernyataan tersebut segera mendapat tanggapan dari Teheran. Kantor Berita Tasnim, mengutip sumber militer Iran, melaporkan negara itu akan menargetkan infrastruktur regional dan fasilitas energi yang memiliki kepentingan Amerika Serikat apabila terjadi serangan terhadap jembatan atau pembangkit listrik di Iran.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam KTT ASEAN di Filipina mengatakan Washington tetap terbuka terhadap jalur diplomasi. Namun, menurutnya, Iran belum menunjukkan keseriusan dalam proses negosiasi.