Harga Emas Dunia Melemah, Ini Sentimen yang Menekannya

Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti

Harga Emas Dunia Melemah, Ini Sentimen yang Menekannya

Eko Nordiansyah • 14 September 2026 09:00

Chicago: Harga emas sedikit melemah pada Senin, 14 September 2026, setelah data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada akhir pekan ini. Sementara lonjakan harga minyak menambah risiko inflasi.

Dikutip dari Investing, emas diperdagangkan di dekat level USD4.340 per ons setelah turun selama tiga minggu berturut-turut. Harga emas batangan sempat turun 1,8 persen pekan lalu meskipun berakhir lebih tinggi pada sesi perdagangan hari Jumat.

XAU/USD turun 0,3 persen menjadi USD4.335,98 per ons, sementara Emas Berjangka (Gold Futures) turun 0,7 persen menjadi USD4.376,92. XAG/USD turun 0,7 persen menjadi USD64,09 per ons, sedangkan XPT/USD turun 0,3 persen menjadi USD1.792,63. Indeks Dolar AS naik tipis sebesar 0,1 persen menjadi 99,19.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed

Tekanan terbaru ini muncul setelah data inflasi bulan Agustus menunjukkan indeks harga konsumen inti naik 0,3 persen secara bulanan (month-on-month), tidak termasuk biaya makanan dan energi. Kenaikan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed dapat melakukan kenaikan suku bunga pertamanya dalam tiga tahun terakhir pada pertemuan minggu ini.

Pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 88 [ersen untuk kenaikan suku bunga bulan September. Biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya membebani harga emas karena logam mulia ini tidak menghasilkan bunga, sehingga aset yang memberikan imbal hasil (yield) menjadi lebih menarik.

Kenaikan suku bunga juga dapat menimbulkan ketegangan politik bagi The Fed. Presiden Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga pada hari Minggu, melanjutkan kritik terbarunya terhadap sikap kebijakan bank sentral.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Pada saat yang sama, prospek inflasi menjadi lebih rumit akibat konflik di Timur Tengah. Minyak mentah Brent naik mendekati USD107 per barel setelah melonjak hampir Sembilan persen pekan lalu, seiring berlanjutnya gangguan konflik terhadap pasar energi.

Pertemuan yang dijadwalkan pada hari Senin antara Iran dan beberapa negara Teluk untuk menetapkan jalur pelayaran sementara melalui Selat Hormuz ditunda, sehingga upaya untuk meningkatkan pengiriman melalui jalur air vital tersebut menjadi tidak pasti.

Dukungan jangka Panjang emas di tengah risiko suku bunga

Emas telah diperdagangkan dalam kisaran yang relatif sempit di sekitar USD4.400 sejak bangkit dari level terendah di dekat USD4.000 pada bulan Juli, seiring investor berulang kali menilai kembali prospek kebijakan The Fed.

ANZ menyatakan tetap memiliki pandangan positif terhadap emas meskipun ada ekspektasi pengetatan moneter lebih lanjut.

Bank tersebut memperkirakan eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga energi akan mendorong inflasi lebih tinggi, serta memprediksi tiga kali kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin hingga Maret 2027.

Namun, ANZ menyebutkan bahwa tekanan inflasi tersebut didorong oleh gangguan geopolitik, yang diyakini akan mempertahankan daya tarik emas sebagai aset safe haven. Oleh karena itu, bank tersebut mempertahankan target harga emas 12 bulan di angka USD5.400 per ons.

Permintaan investasi memberikan sumber dukungan lainnya. ANZ menyatakan bahwa kepemilikan ETF emas dan posisi spekulatif telah pulih dalam beberapa bulan terakhir, sementara permintaan institusional yang kuat di Tiongkok dan meningkatnya partisipasi investor di India juga turut menopang pasar.

(Eko Nordiansyah)