Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Dibuka Turun 21 Poin ke Rp17.903 per USD
Ade Hapsari Lestarini • 5 October 2026 09:47
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin, bergerak melemah 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.903 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.882 per USD.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi sebelumnya mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
"Data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya," ujar dia dalam keterangan tertulis, dilansir Antara, Senin, 5 Oktober 2026.
Mengutip Xinhua, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) utama AS naik 3,4 persen secara tahunan (year-on-year) pada Agustus. Angka ini berada di bawah perkiraan konsensus sebesar 3,7 persen.

Ilustrasi. Foto: dok MI.
Inflasi AS
Indeks harga PCE inti AS, yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang fluktuatif, naik tiga persen. Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 3,3 persen dan mencerminkan penurunan dari posisi 3,3 persen pada Juli.
Secara bulanan, PCE inti naik 0,2 persen, turun tipis 0,1 poin persentase dari bulan sebelumnya dan berada di bawah proyeksi kenaikan sebesar 0,3 persen.
Di samping itu, konflik AS dengan Iran masih memanas seiring ancaman Presiden AS Donald Trump berencana untuk melancarkan serangan bom terhadap Iran pada November pascapemilihan umum paruh waktu AS di bulan tersebut.
"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Ibrahim.