Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah. Foto: Metrotvnews.com
Pascaserangan di Riyadh, Kemlu Siapkan Rencana Darurat Bantu WNI
Fajar Nugraha • 15 October 2026 12:05
Jakarta: Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mempersiapkan rencana kontingensi setelah serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi.
Situasi keamanan di Riyadh sempat memanas sejak awal pekan. Pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 21.00 waktu setempat, Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi mengaktifkan sistem peringatan dini nasional di wilayah Riyadh menyusul ditemukannya potensi ancaman serangan udara.
Di saat yang sama, Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman melaporkan keberhasilan mereka dalam mencegat dan menghancurkan satu rudal balistik yang diluncurkan menuju Riyadh.
Eskalasi berlanjut pada Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 15.03 waktu setempat. Berdasarkan laporan Kantor Berita Resmi Arab Saudi (SPA), Juru Bicara Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Malki, mengonfirmasi bahwa pasukan koalisi berhasil mencegat dan melumpuhkan tiga pesawat nirawak (drone/UAV) di kawasan utara Riyadh.
Antisipasi Kedaruratan dan Imbauan Umrah
Merespons dinamika keamanan tersebut, Perwakilan RI di Arab Saudi, baik Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh maupun Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah telah menyusun rencana kontingensi kedaruratan.“Rencana ini disesuaikan secara berkesinambungan mengikuti perkembangan situasi di lapangan,” ucap Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, dalam keterangan Kamis 15 Oktober 2026. Meskipun terjadi insiden tersebut, Kemlu menyatakan bahwa aktivitas ibadah umrah bagi jemaah asal Indonesia sejauh ini masih berjalan normal tanpa adanya arahan penutupan atau penghentian sementara dari otoritas terkait.
Kemlu bersama KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, serta Kementerian Haji dan Umrah terus meningkatkan koordinasi guna memantau dari dekat perkembangan situasi keamanan bagi seluruh WNI dan jemaah di Arab Saudi.