Ilustrasi. Foto: Dok MI
Eko Nordiansyah • 26 November 2025 16:13
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap mata uang dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini, Rabu, 26 November 2025, bergerak melemah. Mata uang Garuda terpantau sudah melemah atas dolar AS sejak pembukaan pagi tadi.
Mengacu data Bloomberg, rupiah melemah tujuh poin atau setara 0,04 persen hingga ke posisi Rp16.664 per USD. Rupiah melemah jika dibandingkan perdagangan kemarin di posisi Rp16.657 per USD.
Kemudian berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah justru menguat sebesar 49 poin atau setara 0,29 persen menjadi Rp16.655 per USD. Sebelumnya rupiah berada di level Rp16.704 per USD.
Sedangkan berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (disingkat Jisdor), mata uang Garuda ini terpantau berada di posisi Rp16.673 per USD. Rupiah melemah dibandingkan dengan kemarin sebesar Rp16.667 per USD.
Baca Juga :
.jpg)
(Ilustrasi. MI/Ramdani)
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen keyakinan para pelaku dimana Federal Reserve (Fed) akan memangkas suku bunga pada pertemuan Desember, seiring terus mengalirnya data ekonomi Amerika Serikat (AS).
"Hal tersebut terlihat dari komentar dovish para pejabat Federal Reserve yang meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Desember," jelas Ibrahim.
Terbaru komentar dari Gubernur Fed Christopher Waller yang mendukung penurunan suku bunga di Desember, senada dengan komentar Presiden Fed New York John Williams pada Jumat lalu, yang mengatakan penurunan suku bunga di Desember dimungkinkan karena pasar tenaga kerja yang melemah.
Pasar sekarang memperkirakan peluang hampir 80 persen The Fed akan memangkas suku bunga seperempat poin bulan depan, naik dari 30 persen sebelum pernyataan mereka, menurut perangkat CME FedWatch.
Saat ini pelaku pasar juga bersiap untuk data ekonomi AS terbaru guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang kebijakan moneter. Indeks Harga Produsen (IHP) AS diperkirakan akan menunjukkan peningkatan sebesar 0,3 persen MoM pada September, sementara Penjualan Ritel diproyeksikan akan menunjukkan peningkatan sebesar 0,4 persen MoM selama periode yang sama.
Presiden Prabowo Subianto punya harapan soal pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dia ingin APBN pada 2027 atau 2028 tidak lagi defisit.
Dengan begitu, pendapatan dan belanja negara seimbang atau bahkan pendapatan lebih besar daripada belanja. Keinginan tersebut diungkapkan Prabowo saat menyampaikan nota keuangan dalam Sidang Tahunan MPR pada 15 Agustus 2025.
Dalam nota keuangan tersebut, target defisit APBN 2026 sebesar 2,48 persen dari produk domestik bruto (PDB). "Artinya, butuh waktu setahun untuk menekan defisit dari 2,48 persen menjadi nol seperti cita-cita Prabowo," tutur Ibrahim.