Rupiah Tergelincir Pagi Ini

Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen.

Rupiah Tergelincir Pagi Ini

Husen Miftahudin • 26 November 2025 09:50

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan, setelah terus menguat dalam beberapa hari terakhir.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 26 November 2025, rupiah hingga pukul 09.40 WIB berada di level Rp16.662 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah tipis lima poin atau setara 0,03 persen dari Rp16.667 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.665 per USD. Rupiah justru menguat 39 poin atau setara 0,23 persen dari Rp16.704 per USD.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.650 per USD hingga Rp16.700 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp16.657 per USD
 

Pasar pede Fed pangkas suku bunga


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen keyakinan para pelaku dimana Federal Reserve (Fed) akan memangkas suku bunga pada pertemuan Desember, seiring terus mengalirnya data ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Hal tersebut terlihat dari komentar dovish para pejabat Federal Reserve yang meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Desember," jelas Ibrahim.

Terbaru komentar dari Gubernur Fed Christopher Waller yang mendukung penurunan suku bunga di Desember, senada dengan komentar Presiden Fed New York John Williams pada Jumat lalu, yang mengatakan penurunan suku bunga di Desember dimungkinkan karena pasar tenaga kerja yang melemah.

Pasar sekarang memperkirakan peluang hampir 80 persen The Fed akan memangkas suku bunga seperempat poin bulan depan, naik dari 30 persen sebelum pernyataan mereka, menurut perangkat CME FedWatch.

Saat ini pelaku pasar juga bersiap untuk data ekonomi AS terbaru guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang kebijakan moneter. Indeks Harga Produsen (IHP) AS diperkirakan akan menunjukkan peningkatan sebesar 0,3 persen MoM pada September, sementara Penjualan Ritel diproyeksikan akan menunjukkan peningkatan sebesar 0,4 persen MoM selama periode yang sama.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Harapan APBN tak lagi defisit


Presiden Prabowo Subianto punya harapan soal pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dia ingin APBN pada 2027 atau 2028 tidak lagi defisit.

Dengan begitu, pendapatan dan belanja negara seimbang atau bahkan pendapatan lebih besar daripada belanja. Keinginan tersebut diungkapkan Prabowo saat menyampaikan nota keuangan dalam Sidang Tahunan MPR pada 15 Agustus 2025.

Dalam nota keuangan tersebut, target defisit APBN 2026 sebesar 2,48 persen dari produk domestik bruto (PDB). "Artinya, butuh waktu setahun untuk menekan defisit dari 2,48 persen menjadi nol seperti cita-cita Prabowo," tutur Ibrahim.

Namun, alih-alih turun, Kementerian Keuangan pada September 2025 mengerek target defisit tahun depan dari rancangan awal 2,48 persen menjadi 2,68 persen. Kenaikan tersebut pun disetujui DPR lewat pengesahan Undang-Undang APBN 2026.

"Defisit anggaran dinaikkan karena pemerintah ngotot menjalankan program prioritas tahun depan, di antaranya makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih," urai dia.

Program-program yang menyedot dana jumbo tersebut tentu membuat belanja pemerintah membengkak. Sedangkan penerimaan negara belum pulih sejak masa pandemi. Penerimaan pajak yang menjadi sumber utama pendapatan negara tidak kunjung mencapai target.

Rasio penerimaan pajak dari PDB pun ambles dari 10,39 pada 2022 menjadi 10,31 persen pada 2023 dan 10,08 persen pada 2024. Karena itu, untuk menutup kenaikan defisit, pemerintah bakal menerbitkan surat utang.

"Angka 2,68 persen memang masih di bawah ketentuan. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan defisit maksimal tiga persen terhadap PDB. Itu pun bukan berarti pemerintah tidak bisa menetapkan defisit di atas tiga persen," tukas Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
Viral!, 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(Husen Miftahudin)