Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Emas Naik Tipis, Pidato Ketua The Fed Dinanti
Eko Nordiansyah • 28 August 2026 08:42
Chicago: Harga emas dunia naik tipis pada Kamis, 27 Agustus 2026, namun pergerakannya terbatas menjelang pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole yang sangat dinantikan.
Para pelaku pasar logam mulia mencerna data inflasi yang beragam dari hari sebelumnya, sembari memantau kenaikan harga minyak.
Harga emas batangan pekan ini cenderung bergerak mendatar setelah melonjak lebih dari lima pada pekan sebelumnya, yang didorong oleh aksi beli sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang (debasement trade) di tengah aksi jual tajam obligasi Treasury AS.
Dikutip dari Investing, Jumat, 28 Agustus 2026, harga emas spot naik 0,3 persen menjadi USD4.607,41 per ons, sementara harga emas berjangka naik 0,2 persen menjadi USD4.660,56 per ons.
Prospek suku bunga The Fed
Pada Rabu, data menunjukkan ukuran inflasi pilihan The Fed naik 0,2 persen secara bulanan (mtm) dan 3,3 persen secara tahunan (yoy) pada bulan Juli, sesuai dengan ekspektasi. Angka bulanan menunjukkan percepatan dibandingkan bulan Juni, sementara angka tahunan tetap sama.Kenaikan tahunan sebesar 3,3 persen tersebut jauh melampaui target jangka panjang The Fed sebesar dua persen. Secara keseluruhan (angka utama/headline), kenaikan bulanan maupun tahunan tercatat sedikit lebih tinggi dari perkiraan.
Secara terpisah, estimasi kedua pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS untuk kuartal kedua tercatat tidak berubah di angka 1,5 persen. Dengan akumulasi data yang menunjukkan ekonomi tangguh dan inflasi yang sulit turun (persisten), peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil pada bulan September pun meningkat.
(1).jpg)
(Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti)
Di tengah situasi ini, para pengamat kebijakan moneter akan mencermati pidato utama Ketua The Fed, Warsh, dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada Jumat. Sejauh ini, Wall Street cenderung bereaksi negatif terhadap komentar publik Warsh karena enggan memberikan panduan mengenai suku bunga ataupun langkah spesifik untuk mengatasi inflasi.
Volatilitas di pasar obligasi juga membuat para pedagang logam mulia merasa was-was.
Kekhawatiran akan kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak, ditambah dengan kecemasan mengenai besarnya utang yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa (mega-cap) untuk mendanai belanja infrastruktur AI, memicu aksi jual besar-besaran pada obligasi pemerintah AS tenor panjang pekan lalu.
Langkah intervensi tak terduga dari Departemen Keuangan AS untuk membatasi kenaikan imbal hasil (yield) hanya memberikan dampak minim setelah munculnya kabar bahwa utang AS telah melampaui angka USD40 triliun.
Pada umumnya, kenaikan imbal hasil obligasi berdampak serupa dengan kenaikan suku bunga karena meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan pelaku bisnis, yang pada gilirannya cenderung memperkuat nilai dolar.
Sementara harga emas melonjak dan kripto juga mengalami reli pekan lalu, indeks dolar AS justru turun hamper satu persen.
Harga minyak naik
Di luar isu suku bunga, situasi di Timur Tengah masih diwarnai ketegangan. Mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut, The Wall Street Journal pada hari Kamis melaporkan bahwa AS telah berulang kali menyampaikan kepada pihak mediator bahwa mereka tidak berminat kembali pada ketentuan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani dengan Iran pada pertengahan Juni.Laporan tersebut menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump lebih memilih untuk menunggu dan melihat apakah perang ekonomi terhadap Iran akan membuahkan hasil.
Awal pekan ini, Washington meluncurkan "Operation Economic Outcast" (Operasi Pengucilan Ekonomi) yang mencakup pengumuman serangkaian sanksi baru terhadap entitas dan individu yang terkait dengan Iran, sembari memperingatkan negara-negara lain agar tidak mempertahankan hubungan ekonomi apapun dengan Teheran.
"Saat ini tidak ada negosiasi (dengan Iran) yang sedang berlangsung, dan situasi ini akan terus berlanjut sampai presiden merasa bahwa mereka mungkin bersedia duduk di meja perundingan secara serius dan bermakna. Kami belum melihat hal itu terjadi," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam sebuah wawancara.
Harga minyak naik menyusul laporan Wall Street Journal tersebut. Harga minyak mentah berjangka Brent terakhir tercatat naik 2,2 persen menjadi USD88,85 per barel.