Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Ditutup di Level Rp17.936/USD
Eko Nordiansyah • 23 July 2026 16:20
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah melemah di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah saat AS dan Iran saling serang.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 23 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.936 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 19 poin atau setara 0,11 persen dari posisi Rp17.917 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.910 per USD. Rupiah juga melemah sebanyak lima poin atau setara 0,03 persen dari Rp17.905 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.915 per USD. Rupiah bergerak melemah dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya yang di level Rp17.909 per USD.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: MI/Susanto)
Peningkatan bentrokan militer AS-Iran
Pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap meningkatnya bentrokan militer antara AS dan Iran, dimana pasukan AS mengatakan mereka mulai menyerang target militer Iran untuk malam ke-11 berturut-turut, menargetkan lokasi peluncuran rudal dan drone, fasilitas komando dan kendali, sistem pertahanan udara, dan infrastruktur militer lainnya, seiring Washington mengintensifkan kampanyenya melawan Teheran.Sementara Teheran melanjutkan serangan balasan terhadap posisi militer AS di seluruh wilayah, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Selain itu, investor juga memantau gerakan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran setelah mengancam blokade angkatan laut yang memengaruhi pengiriman yang terkait dengan Saudi di Laut Merah, yang mendorong beberapa kapal tanker minyak untuk mengubah rute dan menimbulkan kekhawatiran atas ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia.
Ancaman blokade ini muncul ketika lalu lintas maritim telah terganggu oleh permusuhan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global, yang menambah kekhawatiran bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat semakin mengurangi pasokan yang tersedia dan meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.
Ekspektasi The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78 persen The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuannya minggu depan, sementara kemungkinan kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 68 persen.
Di sisi lain, APBN membukukan defisit sebesar Rp196,5 triliun pada akhir Juni 2026 atau semester I-2026, defisit APBN itu setara dengan 0,76 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sedangkan, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun per Juni 2026. Realisasi itu setara 46,3 persen dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.153,6 triliun.