BI Gencar Jaga Stabilisasi Rupiah di Tengah Gejolak Geopolitik AS-Iran

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti. Foto: Tangkapan layar YouTube BI.

BI Gencar Jaga Stabilisasi Rupiah di Tengah Gejolak Geopolitik AS-Iran

Husen Miftahudin • 4 March 2026 13:14

Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengintensifkan berbagai instrumen stabilisasi untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang menembus level Rp16.900 per USD akibat meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
 
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral Indonesia akan terus berada di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah.
 
"Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," kata Destry dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 4 Maret 2026.
 

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp16.922 per USD


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Pelemahan rupiah masih sejalan dengan mata uang regional

 
Destry mengatakan pelemahan rupiah masih sejalan dengan mata uang regional. Secara month-to-date (mtd), rupiah tercatat melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan pelemahan mata uang di kawasan.
 
Cadangan devisa juga tetap terjaga yakni berada di level USD154,6 miliar pada akhir Januari 2026. Di sisi lain, arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp25,7 triliun.
 
Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, rupiah bergerak melemah 58 poin atau 0,34 persen menjadi Rp16.930 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.872 per dolar AS pada Selasa (3/3).

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)