Timwas Haji Ingatkan Kelancaran Transportasi Pengangkut Jemaah

Ilustrasi jemaah haji. Foto: Media Indonesia/Media Center Haji 2026/Akmal Fauzi.

Timwas Haji Ingatkan Kelancaran Transportasi Pengangkut Jemaah

Fachri Audhia Hafiez • 28 May 2026 07:59

Makkah: Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR 2026, Maman Imanul Haq, mengingatkan kelancaran armada transportasi bagi jemaah Indonesia. Pasalnya, Timwas menemukan adanya kendala keterlambatan pengangkutan jemaah dari Makkah menuju Arafah.

“Jalur perpindahan dari Muzdalifah ke Mina merupakan salah satu titik paling padat, rawan, dan krusial dalam rangkaian puncak haji di Armuzna (Arafah-Muzdalifah-Mina),” kata Maman di Makkah, dikutip melalui keterangan tertulis, Rabu, 27 Mei 2026.
 


Maman bersama Timwas Haji DPR yang dipimpin Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal hingga kini terus memantau pelaksanaan ibadah jemaah di Tanah Suci. Berdasarkan hasil pengawasan langsung di Sektor 8 dan 9, dia membeberkan sejumlah catatan terkait performa layanan transportasi udara.

“Terjadi beberapa kasus jemaah turun dari hotel terlalu cepat sehingga harus menunggu bus hingga 3 jam. Jumlah bus setiap maktab juga tidak sampai 10 armada. Dan bus yang sedikit ini juga tidak standby sehingga sebagian jemaah harus menunggu lama,” ucap Maman.

Menurut pantauan di lapangan, sejumlah jemaah bahkan menunggu jemputan sejak pukul 07.00 waktu setempat hingga siang hari sekitar pukul 12.00 dan 14.00. Kondisi ini dinilai sangat memberatkan fisik jemaah, terutama kelompok lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas.

“Kondisi ini sangat memberatkan jemaah, terutama lansia dan penyandang disabilitas. Kita melihat pelayanan petugas transportasi belum optimal,” ucap dia.

Ia menambahkan, komunikasi antarlini di sektor transportasi dinilai belum efektif sehingga memicu ketidakpastian informasi di lapangan. Oleh karena itu, ia meminta otoritas terkait memaksa pihak syarikah (maktab) menyediakan armada bus yang layak, nyaman, dan ramah kapasitas.

“Jadi koordinasi antara Kabid Transportasi, Kepala Sektor, Ketua Kloter, Karom dan Karu harus diperkuat,” tegasnya.

Bagi Timwas, tolok ukur kesuksesan puncak haji tidak hanya dilihat dari ritual ibadah, melainkan dari kemampuan mitigasi petugas dalam melindungi keselamatan jiwa jemaah di setiap rute perpindahan.

“Armuzna adalah fase krusial di mana risiko kesehatan jamaah benar-benar diuji sehingga harus mendapatkan pelayanan spesial dari petugas,” imbuhnya.


Ilustrasi jemaah haji. Foto: Media Indonesia/Media Center Haji 2026/Akmal Fauzi.

Seluruh temuan minor ini diharapkan menjadi bahan evaluasi total demi mewujudkan pelayanan haji yang manusiawi, tertib, dan berkeadilan. Ke depan, tata kelola koordinasi bilateral dengan pihak Arab Saudi harus dirombak.

“Pembentukan Kementerian Haji dan Umrah harus mampu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus membuka tali temali kendala haji yang selama ini mengikat pelayanan haji,” ucap Maman.

(Fachri Audhia Hafiez)