Indonesia Dikepung Kekeringan: Kemarau Panjang, Krisis Air Mengancam

2 September 2026 08:23

Jakarta: Sejumlah wilayah di Indonesia kini menghadapi ancaman kekeringan meteorologis. Kemarau panjang mengakibatkan warga mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan sejumlah sawah juga dikhawatirkan gagal panen.


Wilayah terdampak kekeringan


Berdasarkan data BMKG periode 21 hingga 31 Agustus 2026, status awas terdeteksi di sejumlah kabupaten dan kota, terutama di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sejumlah wilayah di Kalimantan dan juga Maluku.

Di Jawa, wilayah terdampak tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sementara untuk wilayah Nusa Tenggara, sejumlah wilayah di NTB dan NTT juga masuk dalam peningkatan kekeringan. 

Di Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah yang perlu juga mendapatkan perhatian karena seluruh wilayahnya diimbau siaga untuk menghadapi kekeringan yang terjadi selama beberapa periode belakangan sampai dengan beberapa waktu ke depan.

Dampak kekeringan


Kekeringan ini tak hanya berdampak pada ketersediaan air saja, tapi keterbatasan air bersih. Ini juga bisa mengganggu kebutuhan sehari-hari masyarakat yang juga menggunakan air. 

Di sektor pertanian, kekeringan mengancam hasil panen dan juga menurunkan produktivitas dari petani. Kondisi kekeringan ini juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, serta memicu gangguan sanitasi dan juga kesehatan masyarakat. Dampak kekeringan ini begitu luas, tak hanya bagi kesehatan, tapi juga lingkungan. 

Upaya mengatasi kekeringan


Selain itu, menghadapi ancaman kekeringan, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk bisa menjaga ketersediaan air. Mulai dari pembangunan embung untuk menampung air saat musim hujan. Kemudian penghijauan dan juga reboisasi. Ini dilakukan untuk menjaga daya serap tanah. 

Di tingkat masyarakat juga perlu untuk melakukan penghematan air, termasuk memanfaatkan pompa air di wilayah yang membutuhkan.

Puncak kemarau 2026


Kapan masyarakat bisa berharap kondisi kekeringan ini bisa membaik, sehingga dampak yang dirasakan bisa dikurangi atau kemudian masyarakat bisa kembali beraktivitas normal? BMKG memperkirakan mulai periode Agustus, ini menjadi periode puncak kemarau yang mencakup sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia.

Memasuki September, luas wilayah yang berada pada puncak kemarau diperkirakan menurun jadi 25,41 persen. Sedangkan curah hujan tinggi nanti diperkirakan mulai munculnya bertahap pada sekitar akhir tahun, mulai dari Oktober hingga November 2026. 

Artinya masyarakat masih perlu bersiap untuk menghadapi dampak kekeringan sambil menjaga ketersediaan air hingga musim hujan tiba.

Sumber: BMKG

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X