Sokong Biodiesel B50, Pemerintah Dorong Hilirisasi Batu Bara Jadi Metanol

4 September 2026 13:32

Wakil Menteri (Wamen) Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi komoditas batu bara menjadi metanol. Todotua menilai proyek hilirisasi ini penting karena metanol merupakan salah satu bahan baku utama dalam pembuatan bahan bakar biodiesel B50. 

Menurutnya, metanol yang diproduksi saat ini masih belum cukup. Sementara itu, Indonesia membutuhkan banyak pasokan metanol untuk pembuatan bahan bakar biodiesel B50 yang merupakan campuran antara 50 persen bahan bakar nabati berbasis sawit dengan solar.

"Metanol yang ada di negara kita hanya baru ada satu, yang ada di Kaltim, dan itu kapasitasnya sekitar 660 ribu ton. Kita masih short kurang lebih hampir mungkin sekitar 2 juta ya, metanol. Nah, apalagi naik ke B50 ini mungkin pergerakannya mungkin bisa sampai 2,5 juta hingga 3 juta, sehingga kita butuh sumber tambahan," ujar Todotua, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indoensia Metro TV, Jumat, 4 September 2026.

Sementara itu, Todotua juga menyiapkan peta jalan (roadmap) hilirisasi 28 komoditas strategis hingga 2045. Program tersebut memiliki potensi nilai investasi mencapai USD618 miliar.
 



Ia mengatakan roadmap tersebut disusun untuk mengoptimalkan sumber daya alam Indonesia, mulai dari minyak dan gas bumi (migas), mineral, kelautan, hingga perkebunan. Pemerintah mendorong pengolahan komoditas di dalam negeri agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

"Ada 28 komoditas dalam rencana payung besar program kita sampai 2040-2045. Konsolidasi terhadap ini ada kurang lebih USD618 miliar kalau sektor hilirisasi investasinya kita dorong. Untuk lebih focusing lagi, dalam RPJM kita squeeze menjadi 15 komoditas," ujar Todotua dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Menurut Todotua, roadmap hilirisasi tidak hanya memperhitungkan cadangan dan posisi komoditas Indonesia di pasar global. Pemerintah juga memetakan sebaran industri pendukung di lima pulau besar Indonesia.

Pemetaan tersebut dilakukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang lebih seimbang. Sebab, konsumsi nasional masih banyak terpusat di Pulau Jawa, sedangkan sumber bahan baku tersebar di berbagai wilayah di luar Jawa.

(Lutfia Azzahra)



(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X