Jakarta: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, memberikan tanggapan terkait maraknya isu perundungan (bullying) dan kekerasan di lingkungan sekolah, salah satunya yang baru-baru ini terjadi pada siswi SMPN 10 Tangerang Selatan (Tangsel).
Mendikdasmen menekankan pentingnya penggunaan istilah secara tepat saat melihat persoalan ini. "Sebenarnya tidak marak ya, dari bahasanya dipilihlah. Memang masih ada kekerasan di sekolah," ujar Abdul Mu'ti.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa aksi kekerasan di lingkungan pendidikan bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata. Perundungan yang melibatkan pelajar merupakan cerminan dari kondisi masyarakat secara luas.
"Itu tidak bisa kita anggap sebagai masalah yang sederhana. Tetapi sekali lagi, terjadi kekerasan itu adalah cermin dari masyarakat kita juga," tegas Abdul Mu'ti.
Menurutnya, anak-anak tidak hanya menghabiskan waktu dan beraktivitas di sekolah, melainkan juga tumbuh serta berinteraksi di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Menanggapi berbagai kasus kekerasan yang belakangan ini terjadi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berkomitmen untuk menangani persoalan tersebut secara maksimal. Abdul Mu'ti menyampaikan bahwa upaya penyelesaian akan tetap mengedepankan pendekatan yang edukatif dan humanis.
Selain itu, Mendikdasmen mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk saling bahu-membahu dalam merespons isu kekerasan di sekolah. Pihaknya mendukung penuh terciptanya budaya ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) serta iklim sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
Di akhir keterangannya, Abdul Mu'ti mengingatkan bahwa masalah kekerasan anak merupakan persoalan bangsa secara keseluruhan. "Oleh karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dibebankan kepada satu kementerian saja, melainkan membutuhkan kerja sama dan kolaborasi lintas pihak," ujarnya. (Raihan Hadi Permana)