Diumumkan Hari Ini, BI-Rate Diproyeksi Tetap Berada di Level 5,75%

23 September 2026 12:02

Jakarta: Bank Indonesia (BI) akan memutuskan penetapan level suku bunga acuan (BI-rate) usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) siang ini, rabu, 23 September 2026. Sejumlah ekonom memprediksi BI akan tetap mempertahankan BI-rate pada level 5,75 persen.

Salah satu yang mengutarakan pendapat itu ialah Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede. Menurutnya, BI akan mempertahankan BI-rate tetap pada level 5,75 persen dengan mempertimbangkan perkembangan pasar, ekspektasi inflasi, dan keputusan The Fed yang baru saja menaikkan suku bunganya pada bulan ini. 

"Tadi juga disampaikan bahwa BI akan mengoptimalkan dengan berbagai langkah-langkah stabilisasi lainnya. Bukan semata-mata harus dengan kenaikan suku bunga gitu," ujar Josua, dalam program Zona Bisnis Metro TV, Rabu, 23 September 2026.

Josua menilai, ekspektasi inflasi masih berada dia dalam jalurnya. Begitu juga dengan ekspektasi stabilitas nilai tukar Rupiah. Terlebih tekanan terhadap Rupiah saat ini bukan semata-mata karena faktor global atau karena penyempitan selisih dari suku bunga.

"Namun saya melihat bahwa dari sisi bagaimana langkah-langkah tadi ya, bukan hanya kebijakan nonsuku bunga saja. Selain kebijakan suku bunga ini pun juga dioptimalkan oleh BI, sehingga harapannya ini dapat bisa menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," kata Josua. 
 


Jika BI-rate naik


Jika BI menaikkan BI-rate dalam RDG nanti, Josua menilai hal itu berdampak positif terhadap Rupiah dan kepercayaan pasar. Namun dampaknya terhadap perekonomian domestik. 

"Cepat atau lambat akan direspons juga dengan kenaikan suku bunga. Baik itu di perbankan dan juga suku bunga pembiayaan, sehingga harapannya ataupun ekspektasinya ini pun juga akan mempengaruhi nantinya kepada aktivitas ekonomi," kata Josua.

Ketika bank sentral menaikkan suku bunganya, kata Josua, pada umumnya bank sentral ingin menyerap atau menarik berbagai dana dari masyarakat. Akibatnya, konsumen cenderung lebih menabung.

"Tentunya konsumsi akan cenderung melambat, investasi pun juga cenderung akan menunda, karena kenaikan suku bunga tersebut, sehingga pertumbuhan ekonomi pun juga diperkirakan akan cenderung lebih melambat," ucap Josua.



(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X