Logo Bank Indonesia. Foto: dok MI/Susanto.
BI-Rate Diprediksi Tetap di 5,75%, Peluang Naik di Akhir 2026
Husen Miftahudin • 23 September 2026 10:58
Jakarta: Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun tetap terbuka jika tekanan eksternal dan inflasi meningkat.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan kondisi eksternal masih menghadapi sejumlah tantangan ke depan. Eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong sejumlah bank sentral meninjau kembali arah kebijakan moneternya. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian The Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan.
Memasuki pekan terakhir September, risiko peningkatan eskalasi konflik Rusia-Ukraina juga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar global. Menurut Riefky, eskalasi konflik dapat mendorong kenaikan harga energi dan komoditas global. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan inflasi sekaligus memperumit prospek kebijakan moneter.
Di Amerika Serikat (AS), The Fed juga masih membuka opsi kenaikan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini meski kondisi pasar tenaga kerja relatif kuat. Dari dalam negeri, inflasi masih berada dalam kisaran sasaran BI. Namun, kenaikan harga minyak pada awal tahun berkaitan dengan inflasi yang sedikit lebih tinggi pada triwulan II-2026.
Kondisi tersebut menunjukkan harga energi masih menjadi salah satu sumber potensi tekanan inflasi. Riefky mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah dapat meningkatkan tekanan inflasi. Risiko tersebut berpotensi semakin besar jika ketegangan geopolitik di Eropa turut meningkat.
Dengan mempertimbangkan perkembangan eksternal dan domestik tersebut, ruang BI untuk menurunkan suku bunga dalam jangka pendek dinilai semakin terbatas. Terlebih, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) dalam beberapa bulan terakhir.
"Kenaikan suku bunga lebih lanjut masih dapat menjadi opsi pada akhir tahun ini atau awal 2027 apabila kondisi eksternal memburuk dan tekanan inflasi meningkat," kata Riefky dikutip dari Antara, Rabu, 23 September 2026.

(Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: MI/Ramdani)
BI-Rate berpeluang naik jadi 6,00%
Sementara Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman juga memperkirakan BI-Rate bertahan di level 5,75 persen pada September 2026. Namun, tim ekonom PermataBank merevisi proyeksi dasar BI-Rate dengan memasukkan potensi kenaikan 25 bps menjadi level 6,00 persen pada kuartal IV-2026.
Perubahan proyeksi tersebut sejalan dengan meningkatnya ekspektasi kenaikan Federal Funds Rate (FFR) pada kuartal IV-2026. "Kami memperkirakan BI akan menaikkan BI-Rate menjadi 6,00 persen pada akhir 2026," jelas Faisal.
Faisal menjelaskan kenaikan BI-Rate sebesar 100 bps secara kumulatif pada Mei-Juni 2026 merupakan langkah front-loaded, pre-emptive, dan ahead of the curve. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap ekspektasi kenaikan FFR satu kali pada paruh kedua 2026.
Di sisi lain, Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz turut memproyeksikan BI-Rate tetap pada September 2026. Kendati demikian, ruang kenaikan secara pre-emptive masih terbuka jika tekanan eksternal semakin persisten.
Tekanan tersebut antara lain dapat berasal dari kenaikan indeks dolar AS atau DXY, peningkatan imbal hasil atau yield surat utang AS, serta harga minyak yang bertahan tinggi. "Kami mempertahankan proyeksi BI-Rate dapat mencapai 6,25 persen pada akhir 2026," papar Faiz.
Faiz mengatakan diferensial suku bunga dan stabilitas rupiah semakin penting setelah kenaikan suku bunga The Fed dalam FOMC September, yang masih membuka ruang bagi pengetatan kebijakan lanjutan.
Namun, selama tekanan terhadap rupiah masih dapat dikelola melalui intervensi valuta asing (valas), domestic non-deliverable forward (DNDF), dan instrumen moneter lainnya, BI dinilai masih dapat mengutamakan kebijakan non-suku bunga.
"Namun, selama tekanan rupiah masih dapat dikelola melalui intervensi valas, DNDF, serta instrumen moneter lainnya, kami melihat BI masih akan mengutamakan kebijakan non-suku bunga sebagai lini pertahanan pertama," papar dia.