Jakarta: Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki lebih dari 17.000 pulau. Transportasi laut tentunya menjadi moda yang sangat vital untuk digunakan. Namun sayang dalam beberapa tahun terakhir Indonesia memiliki beberapa catatan kecelakaan kapal laut yang menghilangkan banyak nyawa.
Data laka kapal di Indonesia
Data dari periode 2014 hingga 2026 terjadi total 46 kecelakaan kapal roll on, roll off. Kapal ro-ro merupakan kapal yang bisa mengangkut penumpang dan juga sejumlah kendaraan ekspedisi. Sementara di periode yang sama ada 19 kejadian kapal ro-ro yang terbakar.
Rincian kecelakaan kapal pada 2026
Dari 2 Agustus 2026 terjadi kecelakaan dari
KM Mutiara Sentosa II yang terjadi di lokasi perairan Sumenep, Laut Jawa dimana penyebabnya adalah kebakaran dan ada korban 5 meninggal dunia.
Kemudian kejadian yang kedua menimpa KMP Putri Yasmin yang terjadi di Selat Lombok pada 12 Agustus 2026 lalu. Dimana juga terjadi kebakaran dan menyebabkan 1 orang meninggal dunia.
Di KMP Putri Yasmin ini terdapat perbedaan angka manifes penumpang, karena data manifes penumpang adalah 131 orang, sedangkan total yang dievakuasi jumlahnya mencapai 213 orang.
Kecelakaan terbaru menimpa
KMP Virgo Transport 8 yang terjadi pada 13 September di perairan Laut Jawa, tepatnya di perairan Masalembo. Kapal ini mengalami kemiringan dan kemudian terbalik.
Data per 15 September, ada 6 korban meninggal dunia dan 108 selamat, serta masih ada sekitar 129 orang dalam pencarian.
Hingga saat ini operasi SAR masih berlangsung dan dugaan adalah cuaca buruk serta gelombang tinggi yang menyebabkan kapal miring dan kemudian tenggelam.
Data laka kapal 2025
Dari data Subkomite Investigasi Kecelakaan Pelayaran KNKT ada 8 kasus yang sudah diinvestigasi oleh KNKT untuk kecelakaan pelayaran. Rinciannya adalah 6 kapal tenggelam dan 1 kapal terbakar serta 1 kapal yang tubrukan.
Rincian laka kapal 2025
Sejumlah kasus ataupun kecelakaan laut yang menarik perhatian publik pada 2025. Kasus yang pertama yaitu KMP Tunu Pratama Jaya yang terjadi di Selat Bali pada 2 Juli 2025.
Penyebabnya adalah overdraft. Kapal mengalami kemiringan hingga tenggelam dan juga akibat muatan berlebih serta adanya air laut yang masuk ke dalam geladak. Kemudian kendaraan miring dan terjadi resonasi oleng. Total korban 65 orang, dengan rincian 30 selamat, 19 meninggal dunia, serta 16 hilang.
Kemudian KMP Mutiara Ferindo, lokasi kecelakaan di perairan Pulau Tarahan, Serang Banten, pada 3 April. Rerjadi kebakaran kapal dan tidak ada korban jiwa. Hingga saat ini penyebab teknis belum dijelaskan oleh pihak KNKT mengapa kapal ini tidak bisa terbakar.
Kemudian KMP Arena II di perairan Pulau Senang, Kabupaten Lingga, Kepulauan Rio pada 7 April. Penyebab kecelakaan adalah kandas. Sekitar 59 korban berhasil dievakuasi.
Penyebabnya adalah kapal menyangkut di terumbu karang karena air laut yang surut sehingga kapal kemudian kandas.
Faktor Utama kecelakaan kapal
Faktor-faktor kecelakaan yang terjadi di sejumlah pelayaran di Indonesia. Yang pertama, KNKT menyebut kelebihan muatan dan juga dimensi kendaraan kerap terjadi. Kemudian muatan kendaraan dan juga barang sumber kembakaran.
Faktor selanjutnya adalah pengangkutan B3 tidak terlaporkan. B3 adalah bahan berbahaya dan beracun yang tidak selalu dilaporkan oleh pihak supir ketika memasukkan kendaraannya ke kapal Roro.
Kemudian kelemahan pengawasan dan juga verifikasi muatan serta ketidakkuratan manifes data penumpang. KNKT juga mendorong Syah Bandar untuk melakukan pemeriksaan fisik kesesuaian atau sailing declaration. Faktor selanjutnya adalah stabilitas kapal terganggu, faktor manusia dan juga manajemen keselamatan, serta cuaca buruk dan gelombang tinggi.
Isi rekomendasi safety management system (SMS) dari KNKT
Yang pertama adalah kebijakan keselamatan. Kebijakan keselamatan ini harus dimiliki oleh seluruh awak kapal dan juga perusahaan kapal. Sistem manajemen ini adalah yang diterapkan perusahaan dan juga untuk kapal untuk memastikan keselamatan operasi kapal dan juga penjagaan pencemaran laut. Komitmen perusahaan terhadap keselamatan penumpang ini harus tinggi.
Kemudian juga prosedur operasional serta tanggap darurat dan juga kompetensi awak serta perawatan kapal. Pengoperasian kapal dalam kondisi normal bagaimana menangani jika ada kapal miring dan juga terbakar ini harus dimiliki pengetahuannya oleh seluruh awak kapal terutama nakhoda serta komunikasi antara awak kepada penumpang jika terjadi bahaya di atas kapal harus ada sinyal ataupun harus ada alarm yang diketahui oleh para penumpang ketika terjadi bahaya di atas kapal.
KNKT juga merekomendasikan agar awak kapal memiliki kompetensi dalam kondisi darurat termasuk crowd dan juga crisis management.
Selanjutnya adalah pengembangan pelaksanaan plane maintenance system secara konsisten. Lalu juga ada pengawasan muatan serta manifes penumpang yang harus sangat diteliti agar tidak ada perbedaan jumlah manifes penumpang yang tertera di kapal serta para penumpang yang menaiki kapal ketika sedang berlayar.
Pemeriksaan muatan dan stabilitas kapal harus akurat agar tidak terjadi overload dan juga overdimension serta perlengkapan keselamatan seperti adanya sekoci, pelampung dengan jumlah manifes penumpang dan sistem alarm serta navigasi yang tepat bagi para awak kapal.
Yang terakhir adalah audit internal. KNKT merekomendasikan bahwa keputusan nakhoda sangat menentukan ketika melakukan evaluasi cuaca dan juga pemantauan cuaca selama pelayaran. Kemudian juga sistem SMS juga memiliki mekanisme untuk melaporkan kecelakaan, insiden dan juga menyelidiki penyebab kecelakaan secara transparan.
Seluruh rekomendasi ini diharapkan dapat dilakukan oleh seluruh syahbandar dan juga seluruh perusahaan kapal agar kapalnya layak untuk berlayar dan tidak terjadi lagi kecelakaan laut dari faktor kesalahan manusia.
Sumber: KNKT