Jakarta: Digitalisasi transaksi sehari-hari telah memangkas penggunaan uang tunai secara drastis. Kendati demikian, pemahaman mengenai sejarah serta makna uang rupiah tetap krusial, khususnya bagi generasi muda yang terbiasa dengan kemudahan pembayaran non-tunai.
Kepala Grup Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Sani Eka Duta, mengatakan, rupiah lebih dari sekadar alat tukar; ia merupakan lambang kedaulatan ekonomi negara. Melalui pemahaman sejarah rupiah, generasi penerus bangsa diajak untuk mengenang perjalanan sekaligus perjuangan Indonesia dalam menjaga kemandirian ekonominya.
“Dengan kita mempelajari uang, kita tak hanya tahu bagaimana perjalanan dari sebuah bangsa itu ada. Tapi juga kita semakin memahami upaya yang dilakukan untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi,”ungkapnya.
Sani menambahkan bahwa desain uang rupiah turut berfungsi sebagai media edukasi untuk mengenalkan figur-figur bersejarah kepada generasi penerus. Kehadiran gambar pahlawan nasional, seperti Cut Nyak Dien serta proklamator Soekarno dan Hatta, menjadi sarana efektif untuk menanamkan keteladanan mereka di tengah masyarakat.
Meskipun wujud dan metode penggunaannya terus bertransformasi, hakikat uang sebagai alat tukar dan penyimpan nilai tetap tidak berubah. Kendati demikian, kemajuan teknologi digital memperluas peran uang sehingga mampu memberikan dukungan yang lebih komprehensif bagi aktivitas perekonomian masyarakat.
“Tetapi kalo kita lihat kan kalau dulu itu uang cuma fisik kan? Nah sekarang itu uang kan lebih digital, berarti kalau dengan digital ini membuka banyak kesempatan tuh, jadi orang itu atau, uang itu menjadi alat untuk kita membantu masyarakat lebih inklusif lagi,”ujarnya.
Sani memberikan contoh konkret, pada era ketika transaksi masih bertumpu pada uang fisik, perajin asal Yogyakarta yang melayani pembeli di Jakarta dihadapkan pada kerumitan logistik serta proses pembayaran yang panjang. Saat ini, hadirnya transaksi digital mampu memangkas waktu pembayaran menjadi jauh lebih cepat, sementara proses pengiriman barang tetap berjalan lancar. Peluang ekspansi pasar yang setara kini juga terbuka lebar bagi masyarakat di Papua untuk memasarkan produknya langsung kepada konsumen di ibu kota.
Tidak hanya mendongkrak penetrasi pasar domestik, evolusi sistem pembayaran juga membuka peluang transaksi lintas batas (cross-border). Melalui kapabilitas ini, instrumen digital terbukti tidak sekadar menyederhanakan proses pembayaran, tetapi juga secara aktif memperluas inklusi dan aksesibilitas masyarakat terhadap ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Mencintai Rupiah Berarti Menghargai Sejarah dan Budaya Indonesia
Variasi desain rupiah juga berfungsi sebagai pengingat agar masyarakat senantiasa menghormati jasa pahlawan serta keragaman budaya Nusantara. Sani menilai bahwa upaya mengenalkan sosok pahlawan nasional harus terus digalakkan, sebab kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia saat ini merupakan buah dari pengorbanan dan perjuangan mereka di masa lampau.
“Karena mencintai rupiah, berarti kita ikut mencintai pahlawan-pahlawan tersebut. Dan kalo kita lihat ada juga budaya-budaya ada tari-tarian dan segala macamnya berarti kita dengan mencintai rupiah kita ikut memperhatikan rupiah yang ada setiap lembarnya itu berarti kita juga mencintai budaya-budaya yang ada di indonesia.”
Rupiah turut berfungsi sebagai media diplomasi kultural untuk memperkenalkan Indonesia ke kancah global. Di tengah arus transaksi digital dan pembayaran lintas negara, rupiah tetap memegang peranan penting sebagai manifestasi identitas serta kebanggaan nasional. Sani menegaskan bahwa keberadaan rupiah melampaui batas-batas sejarah masa lampau, melainkan terus menjadi elemen esensial yang menyokong dinamika kehidupan masyarakat di masa kini dan masa mendatang.
“Jadi buat generasi muda, yang namanya rupiah itu bukan cuma sekadar cerita masa lalu, tetapi dia cerita masa kini dan cerita masa depan nanti. Sehingga harus sama-sama kita cintai dan kita banggakan,”
Bank Indonesia konsisten mengampanyekan prinsip Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah guna merespons masifnya adopsi pembayaran digital. Implementasi ketiga pilar tersebut mencakup aspek pengelolaan finansial yang bijak serta pemahaman mendalam terhadap substansi nilai mata uang.
Sani menegaskan bahwa eksistensi uang tunai akan senantiasa melekat dalam lintasan sejarah bangsa meskipun lanskap transaksi digital kian mendominasi. Oleh karena itu, edukasi publik mengenai rupiah, khususnya terkait keterampilan mengidentifikasi ciri-ciri keasliannya serta manajemen keuangan yang cermat, menjadi sebuah kebutuhan yang esensial.
Lebih lanjut, manifestasi kecintaan terhadap rupiah dapat tercermin langsung dari perilaku merawat fisik uang. Masyarakat diimbau untuk memperlakukan uang kertas dengan semestinya, yakni menghindari tindakan-tindakan destruktif seperti meremas, menggulung, menekuk secara berlebihan, mencorat-coret, ataupun membubuhkan catatan nomor telepon pada permukaan uang.
“Karena bukti kita mencintai dan membanggakan rupiah itu adalah kita memperlakukan itu dengan sebaik-baiknya. Karena disitu ada banyak cerita, ada banyak usaha yang kita perjuangkan untuk membuat rupiah kita itu bermakna,” pungkasnya. (Titik Nurmalasari)