Rupiah Wajah Sejarah, Simbol Perjalanan Kedaulatan Ekonomi Indonesia-Edukasi Ekonomi

Wijokongko • 30 October 2026 16:37

Jakarta: Tanpa disadari, rupiah yang kita gunakan sehari-hari telah lama menjadi pilar penting dalam perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Sejak pertama kali diterbitkan, mata uang ini berfungsi sebagai lambang kedaulatan ekonomi serta identitas nasional yang terus bertransformasi seiring waktu.

Kepala Grup Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Sani Eka Duta, menjelaskan bahwa setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, berbagai mata uang masih beredar di Indonesia. Di antaranya adalah uang terbitan De Javasche Bank, uang Jepang, hingga uang NICA yang dibawa Belanda. Kondisi tersebut membuat situasi ekonomi pada awal kemerdekaan tidak stabil. Masyarakat juga menghadapi kebingungan dalam menentukan mata uang yang digunakan untuk bertransaksi. 

Untuk menegaskan kedaulatan ekonomi, pemerintah Indonesia kemudian menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 30 Oktober 1946. Tanggal tersebut kini diperingati sebagai Hari Oeang Republik Indonesia.

“Untuk menunjukkan bahwa kita berdaulat secara ekonomi, maka kita harus punya mata uang. Oleh karena itu pada waktu tanggal 30 oktober 1946, pemerintah pada saat itu menerbitkan apa yang disebut dengan Uang Republik Indonesia, dan itulah yang akan kita peringati sebagai hari uang,” ujar Sani.

ORI juga menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Pada masa itu, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui perlawanan bersenjata, tetapi juga melalui bidang ekonomi. Penggunaan ORI menjadi salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi Republik Indonesia. Namun, peredaran ORI menghadapi berbagai tantangan. Pemerintah Belanda berupaya menekan penggunaannya, sehingga proses pencetakan uang harus berpindah-pindah untuk menghindari pengawasan.

“Karena diburu sama pemerintah belanda tuh, pada waktu itu, kalo orang yang menggunakan uang republik indonesia tuh bisa ditangkap,” tambah Sani.

Selain ORI, muncul pula Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA). Uang ini diterbitkan di sejumlah daerah untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat ketika pemerintah Republik Indonesia menghadapi keterbatasan akibat pendudukan Belanda.

Desain Rupiah Merekam Sejarah Bangsa


Desain uang rupiah tentunya turut mengalami banyak perubahan. Pada masa awal kemerdekaan, ORI banyak menampilkan gambar Soekarno sebagai simbol perjuangan dan identitas negara yang baru berdiri. Sementara itu, uang ORIDA menampilkan unsur yang berkaitan dengan kondisi dan potensi daerah masing-masing, seperti pertanian dan pembangunan.

Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan dan memperoleh pengakuan kedaulatan, desain uang semakin beragam. Rupiah mulai menampilkan gambar binatang, seni tari, hingga pahlawan nasional.

Menurut Sani, desain uang rupiah menggambarkan keberagaman unsur yang membentuk Indonesia sebagai sebuah bangsa. Unsur kebudayaan, misalnya, menjadi cara untuk merepresentasikan kekayaan Indonesia dari wilayah barat hingga timur. Berbagai tokoh dan unsur budaya tersebut turut merekam perjalanan bangsa melalui uang yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Bahkan sebelum Indonesia merdeka, pemerintah kolonial Belanda telah menggunakan unsur budaya lokal dalam desain uangnya. Gambar wayang dan unsur lain yang dekat dengan kehidupan masyarakat digunakan untuk menarik minat masyarakat agar bersedia menggunakan uang terbitan mereka.

Dari Kertas Sederhana hingga Teknologi Pengamanan Canggih


Perkembangan rupiah tidak hanya terlihat dari desainnya, tetapi juga dari bahan dan fitur pengamanannya. Pada awal kemerdekaan, keterbatasan bahan membuat uang dicetak menggunakan kertas sederhana. Dalam kondisi darurat, sejumlah daerah bahkan memanfaatkan kertas bungkus kopi untuk mencetak uang ORIDA.

“Kalo kita lihat pada zaman awal kemerdekaan, kertasnya pun menggunakan kertas yang sangat biasa. Pengamannya pun relatif hampir tidak ada,”ungkap Sani.

Seiring waktu, bahan uang rupiah terus dikembangkan. Jika dahulu menggunakan kertas sederhana, kini uang rupiah menggunakan bahan berbasis serat kapas dengan berbagai fitur pengamanan. Indonesia juga pernah menerbitkan uang dengan bahan dasar polimer. Pengembangan pun tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas uang sekaligus memperkuat perlindungan terhadap pemalsuan.

“Sehingga dari masa ke masa itu yang kita lakukan adalah bagaimana mengamankan uang rupiah kita sekaligus menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa,” kata Sani.

Meski teknologi pengamanan terus berkembang, pemalsuan uang tetap tidak terhindarkan. Sani bahkan mencontohkan bahwa praktik tersebut bahkan sudah ditemukan sejak masa kolonial Belanda, ketika uang gulden beredar di masyarakat. Pada masa itu, terdapat uang palsu pecahan tiga gulden, padahal pemerintah Belanda tidak pernah menerbitkan pecahan tersebut. 

“Jadi namanya pemalsuan itu memang dari masa ke masa selalu ada,”pungkasnya. (Titik Nurmalasari)

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X