Jakarta: Musim kemarau belum berakhir. Di sejumlah wilayah hujan tak kunjung datang, tanah pun mulai kehilangan kelembapannya dan sumber-sumber air perlahan menyusut. Di tengah kondisi tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Indonesia.
Ancaman ini bukan semata soal cuaca yang terasa panas saja, karena pertanyaan sebenarnya adalah ketika musim kering berkepanjangan terjadi dan mulai menekan berbagai sektor, sudah sejauh mana kesiapan kita?
Peringatan dini kekeringan
Berdasarkan informasi dari
BMKG, terdapat peringatan dini kekeringan yang berlaku per tanggal 11 hingga 20 September 2026. Periodisasi penentuan status kekeringan ini akan terus diupdate setiap 10 hari oleh BMKG.
Sementara itu zona yang sudah memasuki musim kemarau di Indonesia ada 81% wilayah. Artinya mayoritas wilayah di Indonesia berada di musim kemarau. Kondisi ini tentu menjadi perhatian karena sejumlah wilayah mengalami hujan dengan intensitas yang juga rendah, bahkan tidak mengalami hujan dalam waktu yang panjang.
BMKG juga mencatat suhu udara maksimum di sejumlah wilayah begitu tinggi, bahkan ada satu wilayah yang mencapai 38,6 derajat Celsius. Tepatnya di Provinsi Kalimantan Barat yang tercatat pada 1 sampai 8 September lalu.
Suhu panas ditambah dengan minimnya curah hujan dapat mempercepat penguapan air di permukaan. Akibatnya ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga, pertanian, hingga ekosistem berisiko semakin tertekan.
Sebaran wilayah alami kekeringan
Ada 4 klasifikasi wilayah dengan kondisi kekeringan. Yaitu status paling parah atau statusnya adalah awas. Kemudian kedua terparah yaitu siaga. Berikutnya adalah status waspada dan yang terakhir tidak ada peringatan kekeringan.
Ada banyak daerah atau kabupaten kota yang berstatus awas dan siaga. Kalau dikumpulkan secara jumlah provinsi, kabupaten dan kota, tercatat sebanyak 24 provinsi berstatus awas atau status yang paling parah. Sementara ada kabupaten kota di 19 provinsi yang masuk dalam status siaga kekeringan.
Status ini sebenarnya menunjukkan kekeringan tidak hanya menjadi persoalan lokal, melainkan ada dampak dimana kekeringan bisa semakin meluas. Perlu dipahami bahwa kekeringan meteorologis ini mengacu pada kondisi ketika curah hujan berada di bawah normal dalam periode tertentu.
Dampaknya bisa merembet ke berbagai sektor, mulai dari berkurangnya ketersediaan air, terganggunya produksi pertanian, dan juga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan yang saat ini masih terus dalam penanganan.
Faktor pemicu dan dampak kekeringan
Faktor pemicunya setidaknya ada dua hal, yaitu karena masih terjadinya fenomena atmosfer yang kita kenal dengan sebutan El Niño yang diprediksi masih terjadi sampai dengan Februari 2027 mendatang. Kemudian kondisi minimnya curah hujan yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.
Dampak dari kekeringan ini ada tiga hal, yaitu potensi kebakaran hutan dan lahan yang bisa jadi semakin meningkat. Bukan hanya potensi titik panasnya yang bertambah, tapi sebaran asap karhutla juga bisa meluas. Karena dengan kondisi yang kering kecepatan angin atau arah angin bergerak juga bisa semakin meningkat dan menyebabkan asap karhutla bukan hanya berdampak di wilayah yang terjadi kebakaran, tapi juga di wilayah sekitarnya.
Selain itu kondisi suhu panas juga berpotensi akan semakin naik suhu udara karena tutupan awan semakin minim, sudah sekian lama tidak terjadi hujan, dan awan-awan tutupannya menurun sehingga sinar matahari atau radiasi panas semakin memapar ke permukaan bumi, ke permukaan tanah sehingga suhu udara pun naik.
Hari tanpa hujan kategori ekstrem mendominasi
Selain itu karena salah satu indikator yang menggambarkan intensitas kekeringan adalah hari tanpa hujan atau disingkat HTH, ini adalah salah satu istilah yang memang digunakan oleh BMKG untuk menggambarkan suatu periode di mana curah hujan tidak terjadi atau sangat minim.
BMKG mencatat periode hari tanpa hujan terpanjang bahkan bisa mencapai 131 hari, yang tercatat di Bantul, Yogyakarta. Untuk catatan kondisi di beberapa wilayah, hari tanpa hujan ada tiga kategori di mana untuk kategori yang panjang terjadi selama 21 hingga 30 hari, teramati ada di 384 titik di Indonesia. Kemudian untuk hari tanpa hujan kategori sangat panjang, durasinya adalah 31 sampai dengan 60 hari, ada di sekitar 870 titik. Sementara ini yang mendominasi yaitu HTH, hari tanpa hujan ekstrim panjang yang terjadi selama lebih dari 60 hari itu ada lebih dari 1.600 titik di Indonesia.
Angka ini sebetulnya menunjukkan bahwa sejumlah wilayah telah mengalami periode kering yang terjadi dengan cukup lama. Semakin panjang periode hari tanpa hujan maka semakin besar pula tekanan terhadap ketersediaan air dan sumber air yang bergantung pada curah hujan seperti misalnya embung, kemudian waduk, sungai dan juga sumur ini bisa mengalami penurunan debit.
Imbauan di tengah kekeringan
BMKG sudah mengeluarkan imbauan supaya masyarakat bisa terus meningkatkan kewaspadaan. Caranya adalah yang pertama bijaksana menggunakan air.
Kita perlu berhemat untuk memastikan ketersediaan air tetap ada di wilayah kita masing-masing. Terutama di wilayah yang memang sudah mengalami hari tanpa hujan yang cukup panjang dan mengalami kekeringan. Kebutuhan cairan tubuh juga harus terus kita jaga. Jangan sampai kita mengalami dehidrasi. Pastikan konsumsi air untuk tubuh kita cukup, di tengah suhu udara yang sedang meningkat.
Untuk Anda yang beraktivitas di luar ruangan khususnya pada siang hari, biasakan untuk menggunakan tabir surya atau sunscreen. Ini agar bisa melindungi kita dari paparan udara yang panas dan tentunya berbahaya juga bagi kulit kalau tidak dilindungi dengan sunscreen. Di sisi lain, masyarakat juga diminta untuk tidak membakar sampah ataupun yang lebih parahnya lagi, tentunya jangan kita membuka lahan dengan cara membakarnya. Karena kondisi vegetasi yang kering bisa membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.
Apalagi kondisi karhutla di beberapa wilayah belum 100% padam, maka kita disarankan untuk tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar. Selain itu supaya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Peringatan dini BMKG dapat menjadi dasar pemerintah maupun masyarakat untuk meningkatkan kesiapan, dimana pemerintah perlu memastikan ketersediaan air dan mengantisipasi dampak kekeringan, sementara masyarakat bisa berkontribusi dengan menghemat air, menjaga keselamatan lingkungan dan juga menghindari aktivitas yang memicu kebakaran.
Menghadapi kekeringan bukan hanya soal menunggu hujan kembali turun, tapi kita pastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terlindungi meskipun musim kering masih berlangsung.
Sumber: BMKG