Upaya Pemadaman Kebakaran di Bromo Terus Berlangsung

11 August 2026 09:26

Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan seluas 500 hektare di area Gunung Bromo menyebar begitu cepat, bahkan ketika proses pemadaman terus berlangsung. Tantangan di musim kemarau, hingga pengungkapan penyebab yang terus dinanti, membayangi insiden yang kembali terjadi pasca 3 tahun lalu.


Dugaan awal kebakaran


Dugaan awal munculnya kebakaran ini adalah pada tanggal 3 Agustus 2026 lalu. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Sumeru atau BBTNBTS mengungkap bahwa titik api ini diduga pertama kali ditemukan di atas tebing Blok Kebantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Di lokasi tersebut memang ada jalur tradisional atau bahasanya jalur tikus yang menghubungkan Desa Arjosari dan Desa Ranupane. Jalur ini kerap digunakan oleh warga sebagai jalur alternatif, dan setelah mengetahui hal tersebut, upaya pemadaman sebenarnya terus dilakukan. Bahkan kebakaran itu juga dicoba untuk dilokalisir, namun menyebar hingga ke Padang Savana hingga menyentuh jalur lingkar Kaldera Tengger.

Penyebab kebakaran


Tetapi menariknya dari BBTNBTS dan Badan Geologi mengungkap bahwa kebakaran ini tidak disebabkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Bromo. Lebih lanjut, dalam keterangannya, Kepala BBTNBTS Rudjanta Tjahja Nugraha mengungkap, berdasarkan laporan yang diterima menegaskan dugaan sementara mengarah kepada faktor ketidaksengajaan manusia. "Kami duga sampai saat ini ada kemungkinan faktor manusia, tetapi bukan faktor alam, karena awal api itu ada di puncak tebing yang terdapat jalur tradisional. Ada yang ingin menghangatkan badan, bukan membakar untuk menjadi seperti ini, tetapi faktor ketidaksengajaan."

Sesuai dengan penegasan yang disampaikan juga oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak yang menyampaikan tidak dikaitkan dengan aktivitas warga lokal, tetapi diduga ini merupakan kegiatan dari pengunjung. 


Luas wilayah yang terbakar


Perkembangan hari perhari sejak kemunculan api pertama pada  3 Agustus juga terus berkembang. Pada 6 Agustus diperkirakan kurang lebih sekitar 80 hektar, pada 7 hingga 8 Agustus diperkirakan mencapai kurang lebih 126 hektar, dan pada puncaknya 9 Agustus, kurang lebih menyebar hingga meningkat drasti signifikan di 520 hektar. Karena berdasarkan laporan dari petugas gabungan, bahwa tantangan utama dalam proses pemadaman adalah cuaca dan vegetasi.

Di musim kemarau, vegetasi tumbuhan di hutan dan lahan cenderung mengalami kekeringan, ditambah lagi juga kencangnya kecepatan angin di ketinggian, membuat dampak kebakaran ini semakin masif. 

Upaya pemadaman


Fakta yang tidak kalah menarik adalah berkaitan dengan upaya pemadaman. Secara strategi ada 3 upaya pemadaman yang dilakukan oleh tim gabungan. Yang pertama ini adalah dengan mengerahkan helikopter pengebom air atau waterbombing. Upaya pemadaman yang dilakukan melalui udara ini melibatkan helikopter milik BNPB dan TNI AL dengan dukungan dari pemerintah provinsi Jawa Timur.  Total ada 3 helikopter yang dikerahkan dan mampu untuk menyemprot hingga 4.800 liter air.

Lebih lanjut juga pengerahan drone untuk menyemprot air untuk cangkupan yang lebih kecil, dengan kapasitas terbatas 100 hingga 150 liter air. Dan yang paling konvensional tentunya pemirsa tetap harus diandalkan adalah pengerahan penampungan air melalui jalur darat. 

Berkaitan dengan upaya pemadaman tentu tantangan utamanya adalah suplai air yang harus konsisten, mengingat bahwa pemadaman ini juga kejakejaran dengan waktu. Apalagi yang mengandalkan jalur suplai air via darat. Karena berdasarkan informasi membutuhkan waktu hingga 1 jam untuk isi ulang ke titik kebakaran, kembali lagi mengisi air untuk kembali lagi memadamkan api di titik kebakaran. 

Penutupan akses wisata


Kebakaran tentunya juga berdampak kepada aktivitas wisata di kawasan tersebut karena 4 pintu masuk dari arah Lumajang, Malang, Pasuruan, dan Perobolinggo ditutup total demi keselamatan wisatawan, sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan pemadaman dulu.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau BBTNBTS  telah secara resmi disampaikan dalam lamannya pada Sabtu 8 Agustus malam, menutup seluruh kawasan wisata Gunung Bromo,  mulai Sabtu, 8 Agustus pukul 22 waktu Indonesia Barat, hingga batas waktu yang belum ditentukan. Pintu masuk yang dimaksud adalah Cemoro Lawang Probolinggo, Wonokitri Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula Malang, serta Senduro Lumajang. 

BBTNBTS juga memastikan terus melakukan pengawasan terhadap jalur-jalur alternatif atau yang biasa disebut sebagai jalur tikus untuk wisatawan supaya tidak masuk ke dalam kawasan Gunung Bromo melalui jalur-jalur tersebut. Dalam pengumuman yang sama pihak BBTNBTS juga menyampaikan bahwa calon pengunjung dapat memilih opsi pengembalian refund atau penjadwalan ulang di schedule selama kawasan wisata Bromo masih ditutup. Calon pengunjung wajib melengkapi formulir yang akan disampaikan melalui admin aplikasi booking online TNBTS. Bagi calon pengunjung yang belum membeli tiket namun berencana untuk berwisata ke kawasan Bromo tentunya diimbau untuk membatalkan rencana kunjungan hingga kondisi kembali aman.

Kejadian kebakaran Bromo 2023


Kejadian ini tentunya mengingatkan kita dengan insiden yang terjadi pada 2023 lalu. Kebakaran tersebut terjadi pada September 2023 viral di media sosial luas kawasan terbakar mencapai kurang lebih 500 hektare tepatnya di wilayah Bukit Teletabis.

Sumber api tersebut merupakan penggunaan flare untuk foto pranikah. Tentunya setelah didalami lebih lanjut oleh aparat penegak hukum dan juga pihak daripada Balai Besar bahwa unsur kelalaian dan kesengajaan manusia terkait dengan kebakaran yang terjadi pada tahun 2023 lalu ini terpenuhi. Maka tindak lanjutannya berujung kepada penegakan secara hukum yang sangat tegas.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X