Hujan tak Kunjung Datang, Pertanian di Ambang Kekeringan

19 September 2026 15:16

Jakarta: Ketika hujan tidak kunjung turun, maka sawah-sawah di sejumlah daerah perlahan mengering. Musim tanam menjadi tertunda dan harapan panen petani menjadi semakin tidak pasti. Fenomena El Nino yang melanda Indonesia tahun ini membuat musim kemarau terasa lebih berat daripada biasanya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, sudah sejauh mana kondisi ini mengancam ketahanan pangan kita? Dan apakah langkah pemerintah saat ini sudah cukup untuk menjawabnya? 


Permasalahan yang terjadi


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks ENSO sudah menunjukkan kondisi El Nino sejak akhir Mei 2026 dan kini telah masuk kategori kuat. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung bertahap dengan Agustus 2026 sudah mencakup hampir 49% wilayah daratan Indonesia dan September menyusul sekitar 25% wilayah lainnya.

Kondisi ini semakin diperparah dengan potensi fonomena Indian Ocean Depot positif yang diprediksi memperburu kekeringan hingga Desember 2026. Akibatnya apa? Curah hujan di sebagian besar di Indonesia ini meningkat drastis, kemudian juga sebagian besar wilayah menurun drastis dan musim kemarau berlangsung lebih panjang daripada kondisi normal. dampak paling nyata yang dirasakan oleh sawah tadah hujan adalah lahan yang tidak memiliki akses irigasi teknis sepenuhnya dan bergantung pada curah hujan. Sebenarnya terkait dengan hal ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sudah menyebut kalau sebaran kekeringan dominan berada di kawasan upland atau dataran tinggi, baik itu di Pulau Jawa maupun luar Jawa yang memang minim jaringan irigasi. Jadi ketika hujan tidak kunjung turun, petani terpaksa menunda musim tanam sampai pasokan air dianggap aman. Penundaan ini tentu sangat berisiko.

Risikonya adalah gagal panen akan semakin besar. Kemudian juga waktu tanam akan molor dan akhirnya berpotensi bertabrakan dengan awal musim kemarau berikutnya. Apabila pola ini terus berulang di banyak daerah secara bersamaan, maka ketersediaan dan produksi pangan nasional pun akan ikut rancam.

Dampak kekeringan


Data-data yang dihimpun ini menggambarkan bagaimana kekeringan menekan petani secara langsung. Dari sisi petani, di Karawang, Ketua Serikat Tani setempat melaporkan ribuan hektare sawah di wilayah utara hingga selatan menganggur tidak tertanam karena petani memilih menunda tanam daripada menanggung biaya produksi yang terbuang percuma. 

Pola serupa juga terjadi dialami oleh petani di Tulung Agung dengan lahan padi yang terdampak yang terus bertambah sejak Juni 2026, serta di Pandegelang dimana ratusan hektare sawah terancam dan sebagian petani terpaksa mempercepat tanah agar tidak merugi sepenuhnya. Kondisi ini menegaskan dampak ganda bagi petaniyaitu pertama biaya produksi yang meningkat untuk mengejar pasokan air sementara hasil dan pendapatan justru menurun.

Bagaimana dengan masyarakat luas? Dampak bagi masyarakat luas akan ada penurunan produktivitas lahan  yang membawa ancaman pada ketersediaan air bersih sekaligus potensi kenaikan harga pangan seperti terpantau di sejumlah daerah yang sumur warga dan sungainya ikut menyusut. Bagaimana dengan dampaknya bagi pemerintah? Kalau bagi pemerintah, luas sebaran kekeringan memaksa penambahan anggaran dan percepatan penanganan. Laporan Kementerian Pertanian mencatat bahwa sawah yang terdampak terus bergerak naik dari sekitar 32 ribu hektare pada akhir Agustus menjadi sekitar 50 ribu hektare pada pertengahan September 2026. Kemudian keempat bagaimana dampaknya untuk tanaman itu sendiri. Kekurangan air menghambap pertumbuhan padi di berbagai fase.

Mulai dari tanaman berusia muda hingga menjelang panen dan jika tidak segera teraliri maka bisa berujung pada puso atau gagal panen total seperti yang terjadi di sebagian lahan di Tangerang dan juga Luwu. 

Terakhir, bagaimana dampaknya bagi lingkungan? BMKG mencatat, ada enam provinsi dengan risiko kebakaran hutan dan lahan tertinggi yaitu Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan. Ini seiring dengan tekanan terhadap sumber daya air yang semakin besar.

Sawah terdampak


Secara nasional Kementerian Pertanian mencatat luas sawah terdampak kekeringan terus bertambah sepanjang musim kemarau, dari sekitar 30 ribu hektare pada awal September menjadi 50 ribu hektare pada pertengahan September 2026, dimana sebagian besar berada di kawasan upland tanpa jaringan irigasi. 

Di Jawa Timur tercatat ada sebanyak 3.856 hektare sawah terdampak. Dengan rincian ada 597,11 hektare yang rusak. Kemudian ada 149,95 hektare yang mengalami pusau. Salah satu contohnya adalah di Kabupaten Lamongan, dimana dari 3.450 hektare lahan terdampak  ada sebanyak 3.233 hektare yang berhasil diselamatkan melalui pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi  yang menyisakan 217 hektare yang masih dalam penanganan.

Di Banten ini tercatat ada sekitar 2.839,75 hektare yang rusak. Dengan rincian ada 636,75 hektare yang mengalami pusau termasuk di Kabupaten Tangerang yang mencapai 125,75 hektare tersebar di 16 kecamatan dan 44 desa.

Di Bogor ada sebanyak 38,1 hektare yang dinyatakan pusau. Sementara di Kabupaten Cilacap ada seluas 2.100 hektare sawah yang mengalami kekeringan.


Bagaimana dengan di luar Jawa? 


Di luar Jawa juga mengalami kekeringan kian meluas. Seperti misalnya di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan dengan sebanyak 3.048,88 hektare sawah yang terancam  dan juga ada sebanyak 109,88 hektare di antaranya yang sudah terdampak cukup berat. Angka-angka ini menegaskan bahwa memang kekeringan tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah melainkan menyebar dari sentra pertanian di Jawa hingga luar Jawa secara bersamaan.


Upaya pemerintah antisipasi kekeringan


Lantas apa saja upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi dan juga mengatasi hal ini. Menghadapi situasi ini pemerintah pun bergerak melalui sinergi lintas instansi yang pastinya melibatkan ada Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, BMKG hingga TNI dan Polri. Langkah pertama yang dilakukan adalah berupa intervensi darurat untuk menghadirkan pasokan air secara cepat.

Ada puluhan ribu mesin pompa, pompanisasi termasuk pompa hybrid yang seluruhnya ini didistribusikan untuk bisa menyedot air dari sungai dan sumber air permukaan langsung ke lahan yang mengering. Kemudian juga untuk mengantisipasi adanya sedimentasi sungai dan saluran irigasi ini akhirnya dilakukan pembersihan agar daya tampung air menjadi lebih maksimal. 

Lalu di sejumlah titik kritis juga dipasang tanggul darurat dari karung pasir serta jaringan pipa sementara untuk mengalirkan air ke lahan yang paling membutuhkan.

Di sisi lain pemerintah juga membangun infrastruktur pengairan jangka panjang. Salah satunya adalah melalui jaringan irigasi air tanah dengan membuat sumur berupa sumur dalam dan juga sumur dangkal di kawasan dataran tinggi yang lokasinya jauh dari sungai. Kemudian juga ada embung dan juga long storage ini yang dibangun pebersa sebagai kolam penampung air hujan.

Sementara untuk jaringan irigasi primer, sekunder hingga tersiar yang rusak juga terus direhabilitasi agar aliran air bisa sampai ke sawah-sawah di ujung saluran. Tidak hanya infrastruktur saja, pemerintah juga menempuh rekayasa cuaca dan penguatan teknologi pertanian. Ini bekerja sama dengan BMKG dan TNI Angkatan Udara di mana operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk membuat hujan buatan guna mengisi waduk utama seperti bendungan Jatiluhur misalnya.

Kemudian terakhir pemerintah, petani juga diberikan subsidi benih padi unggul yang tahan kekeringan dan hemat air. Serta juga diedukasi melalui penyuluh pertanian lapangan mengenai teknik irigasi berselang agar penggunaan air menjadi lebih efisien. Sebagai jaring pengaman, pemerintah juga menyediakan perlindungan finansial bagi petani melalui asuransi usaha tani padi.

Apabila sawah mengalami puso akibat kekeringan, petani berhak mendapatkan ganti rugi sebesar 6 juta rupiah per hektare sebagai modal untuk bisa melakukan penanaman kembali pada musim berikutnya. 


Pernyataan Menteri Pertanian


Di tengah tantangan ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok pangan nasional dalam kondisi aman. Andi Amran Sulaiman mengatakan, "alhamdulillah pangan kita dalam kondisi aman. Bahkan di tengah adanya fenomena El Nino yang sangat ekstrim ini, ini terberat betul-betul saya kaget, tapi pasokannya terus masih dalam keadaan aman."

Pada intinya, kekeringan memang menjadi tantangan tahunan bagi sektor pertanian Indonesia. Namun dengan kombinasi penanganan darurat, pembangunan infrastruktur jangka panjang, serta perlindungan finansial bagi petani, pemerintah berupaya memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga. Kita harapkan langkah-langkah ini bisa efektif untuk meredam dampak kekeringan.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X