Arga Sumantri • 23 July 2026 20:43
Jakarta: Momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi pengingat bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama. Di tengah tantangan perkembangan teknologi digital, isu kesehatan mental, kekerasan terhadap anak, hingga pemenuhan hak anak berkebutuhan khusus, diperlukan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah untuk menghadirkan lingkungan yang aman serta mendukung tumbuh kembang anak Indonesia.
Dalam wawancara eksklusif bersama Metrotvnews.com, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengulas berbagai isu strategis yang menjadi perhatian pemerintah. Mulai dari pentingnya menjaga kesehatan mental anak, meningkatkan literasi digital orang tua, memperkuat layanan yang inklusif bagi anak penyandang disabilitas, menggaungkan Gerakan Bersama Lindungi Anak (BERLIAN), hingga mengajak seluruh elemen masyarakat menghadirkan ruang aman bagi anak di seluruh Indonesia.
Berikut rangkaian liputan lengkap wawancara eksklusif Menteri PPPA bersama Metrotvnews.com dalam rangka Hari Anak Nasional 2026.
Momentum HAN 2026 menjadi pengingat pentingnya memberikan ruang yang aman dan mendukung bagi tumbuh kembang anak Indonesia.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental, Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa keluarga memegang peran utama dalam menjaga kesehatan mental anak.
Menurut Arifah, kesehatan mental anak dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tekanan akademik, pola interaksi sosial, hingga paparan konten digital. Karena itu, keluarga dinilai menjadi benteng pertama dalam membangun karakter sekaligus ketahanan mental anak sejak dini.
Baca Selengkapnya :
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menjadi tantangan baru bagi orang tua dalam mendampingi anak. Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan peningkatan literasi digital orang tua menjadi kunci untuk melindungi anak dari berbagai dampak negatif di ruang digital.
Ia menjelaskan, orang tua perlu memahami perkembangan teknologi agar mampu mendampingi anak secara tepat. Kementerian PPPA pun menghadirkan berbagai program edukasi, termasuk PUSPAGA, aplikasi First Click, hingga modul pembelajaran daring untuk memperkuat literasi digital keluarga.
Baca Selengkapnya :
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan upaya membangun lingkungan yang inklusif bagi anak penyandang disabilitas harus dimulai dari keluarga. Menurutnya, penerimaan dan dukungan orang tua menjadi fondasi utama agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal.
Selain dukungan keluarga, Arifah menilai layanan publik juga harus semakin ramah terhadap anak berkebutuhan khusus. Berbagai masukan dari Forum Anak Nasional menjadi perhatian pemerintah untuk mendorong penyediaan fasilitas yang lebih inklusif di ruang publik, termasuk transportasi dan layanan pendidikan.
Baca Selengkapnya :
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan perlindungan anak tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Kementerian PPPA pun menggaungkan kampanye Bersama Lindungi Anak (BERLIAN) pada momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 untuk memperkuat kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Melalui gerakan tersebut, pemerintah ingin mengedepankan upaya pencegahan sejak dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Kampanye BERLIAN juga menjadi tindak lanjut Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) yang mengajak masyarakat membangun budaya saling melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan.
Baca Selengkapnya :
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan HAN 2026 sebagai momentum memperkuat komitmen dalam memenuhi hak dan memberikan perlindungan kepada anak.
Ia menjelaskan, peringatan Hari Anak Nasional kini dilaksanakan secara desentralisasi agar semakin banyak anak di berbagai daerah dapat merasakan manfaatnya. Menurut Arifah, semangat Hari Anak Nasional tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi pengingat bahwa perlindungan anak merupakan investasi jangka panjang untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Baca Selengkapnya :