Jangan Panik Hadapi Abu Vulkanik

9 September 2026 09:31

Jakarta: Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah membuat teras rumah bahkan kendaraan kotor, hingga udara yang kita hirup tidak sehat bagi paru-paru. Memakai masker medis bila harus beraktivitas di luar ruangan menjadi imbauan bagi provinsi, kabupaten, kota dekat wilayah Selat Sunda. 

Namun jangan panik, karena beberapa fakta sejak erupsi panjang menunjukkan perkembangan positif, namun juga tetap penting untuk terus kita mengedukasi diri agar tetap menjaga diri.

Aktivitas vulkanik Anak Krakatau


Seperti yang kita ketahui, terjadi 4 kali letusan Gunung Anak Krakatau pada 4 September dini hari. Lalu pada pukul 23.07 WIB, hingga 6 September pukul 00.04 monitoring menunjukkan erupsi dari Gunung Anak Krakatau berlangsung secara terus menerus selama 25 jam. 

Badan Geologi mengungkap bahwa setelah 25 jam erupsi terus menerus sampai pada akhirnya pada 7 September terungkap, jika  Anak Krakatau sudah memasuki fase letusan strombolian atau letusan ringan.

Namun setelah dipantau, meskipun erupsi ringan, masih teramati 3 kali erupsi strombolian dengan warna kolom hitam. Meski episode erupsi menerus setelah berakhir,pada monitoring pemantauan instrumental dari 6 sampai 7 September, menunjukkan adanya beberapa kali aktivitas, seperti di antaranya 3 kali gempa erupsi, 9 kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frekuensi, 98 kali gempa hybrid atau fase banyak, 4 kali gempa tremor menerus, dan 1 kali gempa vulkanik dangkal. 

Dan pada 8 September, Anak Krakatau kembali erupsi meski terekam selama 10 hingga 15 detik dengan seismograf amplitude di maksimum 47 mm pada pukul 05.34 WIB.

Antisipasi aktivitas vulkanik masih tinggi


Meski demikian aspek geologi ini potensi dan karakter khas dari Gunung Anak Krakatau masih harus tetap dipantau. Walau intensitas erupsi menerus sudah menurun ke erupsi ringan, tetapi tingkat aktivitas Anak Krakatau ini tetap berada pada level 3 atau siaga. Yang masih harus diantisipasi adalah potensi-potensi seperti lontaran batu, hujan abu lebat, hingga pola aliran lava jika letusan episode kembali terjadi.

Pergerakan abu vulkanik Anak Krakatau


Namun yang menjadi perhatian warga yang berdomisili di sekitar Selat Sunda adalah abu vulkanik. Bagaimana pergerakan ini? Pergeseran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh arah angin. Gambar dari citra satelit kemarin menunjukkan bahwa abu vulkanik berdasarkan hasil monitoring pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian 15 ribu kaki, abu vulkanik meluas ke wilayah barat laut, mencangkup sebagian wilayah sedikit dari Banten, dan sedikit bagian Jawa Barat, dan juga barat daya, dan tanpa terkecuali juga sedikit di bagian dari antara Lampung, dan juga sedikit melebar ke arah Bengkulu serta sekitarnya. Namun mayoritas arahnya ini sudah bergeser ke wilayah Samudera Hindia sebelah barat wilayah tersebut. 

Sementara pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian 50 ribu kaki, abu vulkanik teramati lebih jauh di Samudera Hindia sebelah barat, hingga barat Daya Bengkulu, Lampung, dan juga Banten, serta menjauhi wilayah Indonesia. Sebarang abu vulkanik yang teramati pada ketinggian hingga 15 ribu kaki bergerak ke arah barat Daya dan barat laut sudah tidak lagi menyentuh wilayah Jakarta.

Melansir dari sumber BMKG, bahwa pengamatan citra satelit Himawari 9 pada 8 September pukul 02.00, sudah menunjukkan tren yang lebih positif. Sudah mulai kita lihat dalam scoop atau zoom yang lebih dekat lagi, hampir meninggalkan wilayah Banten, Jakarta, dan juga sebagian Jawa Barat, sedikit demi sedikit sudah-sudah mulai meninggalkan wilayah Lampung, dan juga sebagian besar Sumatera Selatan.

Perkembangan bandara ditutup


Seperti diketahui bahwa paper test merupakan rangkaian tes untuk mengecek kadar abu di wilayah bandara, ada 4 bandara yang menunjukkan tren positif untuk beberapa kali paper test dinyatakan negatif, seperti halnya untuk Soekarno-Hatta ini 4 kali berturut-turut paper testnya telah menunjukkan hasil negatif dari debu bulkanik, dan pemantauan di lapangan juga menunjukkan perkembangan positif. 

Pada Selasa, 8 September, lima bandara yang sebelumnya ditutup telah resmi beroperasi kembali. Kelima bandara tersebut adalah Soekarno-Hatta (Tangerang), Halim Perdanakusuma (Bandung), Husein Sastranegara (Bandung), dan Burdiarto Curug (Tangerang Selatan), dan Pondok Cabe (Tangerang Selatan)

Namun hal yang sifatnya evaluasi dari berbagai bandara lainnya, tetap harus melalui paper test. 

Imbauan prokes masih berlaku


Meski menunjukkan tren positif, hal yang berkaitan dengan menjaga diri, protokol kesehatan tetap harus dilakukan, terutama menggunakan masker medis dan pelindung diri tambahan.
Yang dimaksud dengan pelindung diri tambahan karena ini merupakan debu dengan partikel PM25, Anda harus mengantisipasi menggunakan juga pelindung mata untuk menghindari iritasi mata, dan juga tanpa terkecuali kulit. 

Semisal Anda melakukan aktivitas outdoor menggunakan jaket yang menutup mayoritas bagian tangan Anda, menggunakan celana panjang itu akan sangat membantu untuk menghindari iritasi kulit.

Yang adalah menjaga kelompok prioritas, baik itu lansia, anak-anak, maupun ibu hamil, apalagi kelompok rentan. Dalam hal ini adalah para pengidap komorbit atau sakit bawaan, di antaranya seperti pengidap asma.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa seluruh unsur terkait harus tetap bersiaga. Karena tidak hanya Gunung Anak Krakatau, tetapi juga pemerintah menangkap informasi peningkatan aktivitas vulkanik di wilayah yang lain.

Meski trend menunjukkan perkembangan positif, menjaga diri dan bersiap-siaga adalah hal yang baik. Meski fenomena alam berada di luar kendali kita, tetapi kajian prediksi, manajemen penanganan, hingga kesadaran individu untuk menjaga diri adalah hal-hal yang bisa kita lakukan di situasi seperti ini. 

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X