Saham Asia Berguguran, Investor Cermati Konflik AS-Iran

Pejalan kaki melewati layar yang menampilkan informasi pasar saham di Tokyo, Jepang. Foto: Xinhua/Yue Chenxing.

Saham Asia Berguguran, Investor Cermati Konflik AS-Iran

Husen Miftahudin • 2 September 2026 09:05

Singapura: Pasar saham Asia melemah pada awal perdagangan Rabu setelah aksi jual di pasar obligasi global merambat ke kawasan Asia. Tekanan pasar meningkat setelah serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran mendorong harga minyak mentah lebih tinggi.
 
Mengutip Investing.com, Rabu, 2 September 2026, indeks saham Asia-Pasifik MSCI di luar Jepang turun 0,8 persen pada awal perdagangan. Indeks KOSPI Korea Selatan dibuka melemah 3 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang turun 2,2 persen. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 e-mini bergerak datar.
 
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent melanjutkan penguatan untuk hari kedua setelah perdagangan kembali dibuka di Asia. Harga Brent naik 0,7 persen menjadi USD95,34 per barel.
 
Kenaikan terjadi setelah AS melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Iran pada Selasa. Serangan tersebut sebelumnya mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam lima minggu.
 
Analis Westpac mengatakan potensi gangguan lebih lanjut terhadap pasokan melalui Selat Hormuz kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
 
"Ancaman gangguan lebih lanjut terhadap Selat Hormuz telah menimbulkan kembali kecemasan atas inflasi, mendorong aksi jual saham di sebagian besar pasar utama dan penurunan tajam di pasar obligasi global," tulis analis Westpac.
 

 

Dolar AS bertahan di level tertinggi

 
Tekanan juga terlihat di pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun naik 0,4 basis poin menjadi 4,798 persen.
 
Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama bertahan di dekat level tertinggi dalam dua minggu, yakni 99,67.
 
Kenaikan imbal hasil obligasi turut memberikan tekanan terhadap pasar saham. Pada perdagangan Selasa, indeks S&P 500 turun 0,7 persen, sedangkan Nasdaq Composite melemah satu persen.


(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
 

Investor antisipasi kebijakan Fed

 
Pergerakan pasar juga dipengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya yang berlangsung dalam dua pekan, meski peluang tersebut belum sepenuhnya pasti.
 
Kontrak berjangka dana The Fed menunjukkan probabilitas tersirat sebesar 67 persen untuk kenaikan 25 basis poin pada suku bunga acuan dalam pertemuan dua hari yang berakhir pada 16 September. Angka tersebut meningkat dibandingkan probabilitas 39,6 persen pada sepekan sebelumnya, berdasarkan alat FedWatch milik CME Group.
 
Ekspektasi tersebut muncul setelah data Institute for Supply Management (ISM) yang dirilis Selasa menunjukkan aktivitas manufaktur AS melambat pada Agustus. Penurunan terjadi di tengah melemahnya pesanan baru, meski sektor manufaktur masih berada dalam wilayah ekspansi.
 
Di pasar komoditas dan aset digital, harga emas relatif stabil di level USD4.328,59 per troy ons. Sementara itu, harga bitcoin turun 0,2 persen menjadi USD77.246,57. Ether juga melemah 0,3 persen menjadi USD2.412,60.

(Husen Miftahudin)