Rupiah Turun 19 Poin, Pasar Cermati Data PCE dan Arah The Fed

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Rupiah Turun 19 Poin, Pasar Cermati Data PCE dan Arah The Fed

Ade Hapsari Lestarini • 27 August 2026 18:30

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.744 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.725 per USD.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama turut melemah ke level Rp17.762 per USD dari sebelumnya Rp17.717 per USD.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang sesuai dengan konsensus pasar.

"Secara bulanan, Indeks Harga PCE dan Indeks Harga PCE inti keduanya naik sebesar 0,2 persen pada Juli," ungkapnya dalam keterangan tertulis, dilansir Antara, Kamis, 27 Agustus 2026.

Data tersebut dirilis setelah sebelumnya pasar mencermati data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) dan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS untuk Juli yang relatif moderat.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada rilis data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan serta pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat, 28 Agustus 2026.


Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: Anadolu.
 

Selat Hormuz jadi perhatian


Pergerakan rupiah juga dipengaruhi potensi pembukaan kembali Selat Hormuz seiring pembicaraan antara Iran dan Oman. Perkembangan tersebut berpotensi mengurangi gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.

Hal itu menyusul pernyataan Garda Revolusi Iran, kedua negara telah menyepakati pembagian akses serta pendapatan dari jalur perairan yang menghubungkan negara-negara produsen minyak utama di kawasan Teluk dengan pasar dunia.

"Iran dan Oman sedang memfinalisasi perincian kesepakatan untuk mengendalikan Selat Hormuz," kata Ibrahim.

Kendati demikian, konflik antara Iran dan AS masih belum mereda. Para pejabat Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sepenuhnya sebelum AS memenuhi persyaratan Teheran berdasarkan kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai pada Juni.

(Ade Hapsari Lestarini)